Senin, Maret 31, 2003

DAN AKU MERINDU

dan aku merindu kekasihku
dalam jauh jarak dan waktu

dengan doanya yang utuh penuh
juga cintanya yang bercahaya
SEPERTI SAJAK YANG GIGIL SENDIRI

seperti sajak yang gigil sendirian dalam ragu adalah diri yang mencemaskan nasib rindu akankah tersimpan dalam ingatan itu sebagai tetugu batu dipahat waktu
AKU MENDOAKANMU


aku mendoakanmu, setulus pinta, agar kau tetap bahagia, dalam dekap cinta
aku mendoakanmu, setulus cinta, agar terang cahaya, di dalam dada
aku mendoakanmu, setulus airmata, pintaku kepadanya, semoga cinta kita
tetap terjaga



DEMIKIANLAH GODA

demikianlah kekasih, sepanjang jalan tak akan henti goda menghadang, coba
lenakan diri, hingga limbung diri, tak sampai pada tuju. tekadkan niatmu,
teguhkan hatimu, kita melangkah dengan berbekal doa dan cinta yang
bersemayam dalam dada



ITIKAD


langkahkan kaki
menuju satu

tujumu


EMBUN


embun
seperti airmata kita

di dinihari sunyi
merindu



SIAPAKAH AKU, KAU TAHU?

siapakah aku?
akupun bertanya selalu

apakah kau tahu siapa diriku?
katakan apa yang kau tahu

padaku

Senin, Maret 24, 2003

TAK TERKATA

:nanang suryadi

sepasang sayap merayap dalam hitam malam

membumbung ingin menyentuh bilik hati

sepotong rasa

tak terkata



KU TEMUKAN

Radikal bebas berhamburan memenuhi orbital keinginan

Lembar demi lembar tingkat energi telah terlampaui

Mencari sepadan

Terkelupas helai demi helai

Menelanjangi mimpi menelanjangi nyeri

Berbagi

Tinggal sebiji

Lebur

(ku temukan)



ISAK SEMALAM

:nanang suryadi


ingin menjemput bintang agar berdentang ia pada saat malam meredam letihmu letihku dalam isak semalam. Hingga terbangun aku terbangun kamu menyentuh angin menitip salam kerinduan keniscayaan. Hingga kan dikatakan kekanakan aku menangisi sesuatu tak perlu ditangisi.

Tapi,

Ia begitu nyeri menelusup di sekuyup bibirku mengeja kata:

aku tak mau kehilanganmu, cintaku



PUASA

:nanang suryadi


1.

ada yang menggeliat-geliat dihempas dedaun mencium aroma mimpi. Pertapa

Menyelinap sunyi diantara mantra tiba selaksa. Kepompong

Berdiam meredam segala ingin segala ambisi menjadi

Waktu membawa kabar membawa debar. Penantian

Akan sampai tuju

Menitik waktu berdetik. Tik tak tik tak

Memecah desah pada pasrah tengadah

(Tik.Lamban waktu lamban berhamburan.Tak.Sunyi waktu sunyi mencari tepi)

2.

Metamorfosis

3.

tersobek hijab hira tiba selaksa. Derita

berderit-derit sakit minta cahaya. Pintu

akan tiba akan muara. Hingga menitik ghirah:

kemenangan


ISTIKHARAH

1.

dini hari yang basah dihela embun bintik-bintik kaca keperakan

segores senyum mendarat di pelupuk. kenangan

2.

berabad melayat diantara puing bebatuan

berkejaran tanya berkejaran jawab. melucuti mimpi mengongkosi ambisi

berlari dan terus berlari

menanti. sunyi

3.

mendarat syahadat dalam bebasah rintih sajadah tengadah. aku berserah


MENUTUP AKSARA

sesayap imaji menelusup disela gemericik alir kali. mungkin kata tertanggal dari setubuh gelisah mencari jawab. tak genap terungkap ketika lenyap hijab meniada duka terbawa arus haus aksara
: bisu


MELEPASKANMU

melepas genggam tanganmu pergi bersama deru mesin terminal demikian hiruk memecah gundah tengadah pasrah pada keluasan angkasa biru merayap mendung tangis awan luruh mengaduh tanyaku tak terjawab.

menghempas inginku berlari mencari sejati mencari diri hilang terbungkam dalam nafasku cemburu pada waktu.

(tersisa jua disitu pesan terakhirmu)

Minggu, Maret 23, 2003

KARENA KITA MENYIMPAN MASA LALU

karena kita menyimpan masa lalu sebagai tertulis di buku waktu maka
terimalah diriku sepenuh diriku seperti kuterima engkau sepenuh
dirimu tak perlu dihapus segala kenang karena ia adalah milikmu
karena ia adalah milikku dan tertawa kita membaca segala masa lalu





Sketsa Rindu

aku merindukanmu
tapi engkau membisu

kutatap langit biru
kubayangkan dirimu di situ

menatapku selalu


tapi siapa yang akan mengeja isyarat

tapi siapa yang akan mengeja isyarat
dari matamu
seperti gerimis yang jatuh
mungkin cinta
atau rindu
yang kau simpan dalam-dalam
hingga pelupuk basah
hingga pipi basah
tak kusiapkan tisu untukmu
biar genang di situ, biar
kau rayakan kenang itu
sepenuh hatimu
karena ketulusan mencinta
melintasi segala senja
melintasi segala waktu
walau demikian fana
walau

Jumat, Maret 21, 2003

Kau Yang Berdiam Dalam Kesunyian

kau yang berdiam dalam kesunyian menyepi diri menyepi hingga sampai pada titik di mana kau serahkan diri dalam penyerahan sepenuhnya penyerahan melebur diri melebur dalam gerak semesta tunduk pasrah pada kehendak inginnya semata sebagai satu kau tuju sebagai satu dimula kau rindu sebagai satu dimula kau cinta sebagai satu kau kembali o alir airmata mengalirlah mengalir dalam senyap dalam tanya mengharap jawab agar sangsi tak lagi merintangi agar ragu tak lagi mengganggu agar tegar agar yakin diri melangkahkan kaki melangkah hingga sampai hingga pada

satu!

Depok, 7 Maret 2003


Kutelusuri Jejak Airmata

kutelusuri jejak airmata sebagai cintamu yang mengalir dari kedalaman jiwa o hening tatap dalam senyap merindu-rindu dirimu kutelusuri jejakmu dalam sunyi tak ada suara tak ada aksara dimana engkau apakabar engkau o yang menyimpan rahasia dalam dada dengan bibir terkatup dalam gemetar jemari menulis hari-hari gelisah tanyamu sendiri tentang segala yang menggoda cakrawala dalam benak angan ingin mimpimu o tanya yang diteriakkan dalam hati dengan nyeri hingga airmata mengalir mencari jawabnya dalam getar kalbu sepi sendiri menyapa kekasih diri

Depok, 7 Maret 2003


Sebagai Tanyamu

sebagai tanyamu pada cakrawala diam pada tebing-tebing waktu gaungnya menggema dalam dada sendiri membusur ingatan pada peristiwa yang menggoreskan perihnya ke dalam ingatan yang menyimpan kerinduan pada embun yang basuh dahaga hausmu o engkau yang menari di sunyi sendiri dalam tanya sendiri

Depok, 7 Maret 2003


Menelusur Bayang Wajahmu

menelusur bayang wajahmu o ingatan yang tak henti merindu menghitung detik demi detik waktu menunggu dan menunggu hingga saat bertemu dalam satu tuju pintamu dalam satu tuju tanyamu dalam satu tuju cintamu dalam satu jawabmu

Depok, 7 Maret 2003



SEBAB AKU PEREMPUAN

Untuk: Nanang Suryadi

1.

apakah aku tidak boleh takut engkau pergi tak kembali. apakah aku tak boleh marah apabila engkau terasa begitu jauh dari jejemari hari. apakah aku tidak boleh bersedih melepaskan kau pergi tanpa bisa berkata jangan. apakah aku hanya bisa bergumam mencari kejujuran sedangkan kau diam memandang aku yang selalu malu untuk sekedar mengakui: aku perempuan

2.

perempuan memendam rahasia sendiri dari bibir yang terkunci dari mata yang meredup dari tangan yang terkatup. yang mungkin tak kau mengerti karena engkau lelaki

3.

perempuan menyimpan tulang rusuk lelaki. ia adalah bagian dari keseluruhan sebagai engkau keseluruhan dari sebagian.tak kah kau pahami kadangkala ia akan retak dan meminta penggenapan. tak kah kau pahami?

NAFAS DZIKIR

bersetubuhlah bersama udara menerbang sesayap helai
nafasmu mendispersikan ribuan warna pelangi. surga

bernyanyilah bersama ribuan molekul bergumul rindu tak
henti-henti mencari sejati.hingga

di titik inilah kan kau serap produk ekstraksi dari
ribuan anomali ribuan basa-basi.hingga

teguklah sebiji inti sarinya bermesra cinta. purba

berdzikirlah setiap sudut sendi raga hati jiwa ruh
mendawamkan senandung kemahasempurnaan penciptaan.
keseimbangan-keseimbangan rahasia yang kan kau nikmati
dalam tiap seduh teh keingintahuanmu.hingga

bacalah ribuan kemahabesaran tak terkata tak terpeta.hingga
tak henti bibirmu mengeja kata:syukur



DIAM

sisakan sedetik saja waktu menatap hening daun diam. meredam gaduh yang mengaduh dari bilik-bilik kosong jiwa.
temuilah syairnya mengejewantah pasrah pada angin yang meniup ruh kebahagiaan.



HIDUP BUKANLAH PENDERITAAN

tuliskan harmoni keberadaan dan ketiadaan dalam simphoni hati. hingga dapat kau lukis pula disitu anggunnya dalam kanvas nafas cinta.

(diamlah sejenak)