Sabtu, Juni 28, 2003

Dan Lagi

apa kabar. aku jatuh cinta lagi. dan lagi. dan lagi. kepadamu. berulangkali.



Ada

ada yang menggelincir pada mula fajar mungkin airmata yang mengalir mencari muara

ada yang meluncur pada mula fajar mungkin doa yang mengetuk pintu langit sebagai pinta bagi cinta kita yang terjaga


Mimpi


lesat dari mimpinya
yang menggurat dengan telunjuk pada bayang bayang

mungkin matanya yang berbinar cahaya
karena airmata

ingin membuka pintu langit
dengan cintanya yang tak terhingga



Rabu, Juni 18, 2003

KAU DENGAN CINTAMU YANG MEMBISU


1.
Di rongga dada penuh cinta kucari mata air yang kan lunaskan dahaga hausku hingga di mata air kasih sayangmu kekasih kuteguk berabad kerinduan akan perjumpaan

2.
Aku menyeru namamu dalam bayang senyum di rentang jarak waktu sebuah ingatan yang tak hendak pergi karena kutetap mencinta dengan sepenuh jiwa setulus airmata

Di sela angka dan huruf kubaca cintamu penuh doa dengan pinta kita tetap bahagia bersama menata huruf dan angka usia hingga senja segala senja menjemput dan memeluk kita

Dalam rengkuhnya segala rahasia terbuka dan tanya menemu jawabnya di tahta neraca perhitungan perjalanan kita mencari wajahnya yang selalu dirindu dengan airmata luka

Dan kita menyodorkan luka di seluruh tubuh karena cinta dan rindu menempuh tajam terjal pendakian tak henti hingga menjelma mimpi hingga menjadi apa yang dipinta

3.
Kau dengan cintamu yang membisu tapi kudengar degupnya membuncah dalam dada penuh kerinduan yang tak terucapkan tapi terasakan suaranya nyaring di telinga jiwa memanggilku

4.
Akulah puisi yang menyala dalam sunyi karena tatapmu yang cemburu bikin lengang hari bikin nyala puisi meredup tinggal mati sendiri dan sepi dan sendiri sepi


Sabtu, Juni 14, 2003

Catatan Di Bromo

11.

ritmis lelampu lilin menjaring udara kata terlontar dari gemetar bibirmu membusa

jeritkan puitis menggarisi pelangi

mimpi



katakan penyair, di kata yang mana bisa kujumpai dirimu

sesungguhnya



restogama

040603




13.

surya perlahan memanjati sunyi bebukit pananjakan

menelanjangi titik-titik beku di telapak tanganmu

rayapi sekujur debarku dengan kehangatan yang sungguh

tak kah kau malu pada debu yang melilipi matamu, tanyaku lirih

tak, karena mereka tak mengenal cinta, jawabmu tak kalah lirih



perlahan surya pun membasahi bibirmu dengan kerlingan nakal

demikian mungkin cinta berujar



bromo

070603

http://kunthihastorini.blogspot.com



Jingga Bola Matahari

jingga bola matahari di senja kala aku merindukanmu sebagai dekap peluk sepenuh cintamu yang utuh hangatkan gigil dada dan bibir gemetar menelusur rahasia dengan tatap redup mata


Aku Yakin

aku yakin pada cintamu padaku sebagai ketulusan yang sanggup mengalahkan rasa takut dan gelisah ragu karena kau tahu aku demikian mencintai dirimu utuh sebagai penerimaan atas kehendak


Sebagai Hati Yang Menerima

sebagai hati yang menerima cinta dengan tulus demikianlah kan diterima segala sukaduka segala tangistawa segala dukabahagia segala beda apa adanya

Selasa, Juni 10, 2003

Dimanakah Puisi

di manakah puisi kekasihku apakah pada semburat cahaya matahari yang memandikan diri kita di saat gigil diri menatap biru langit bebatuan dan ringkik kuda di manakah puisi kekasih di manakah apakah kau simpan dalam dekap pelukmu adakah kau simpan dalam dada adakah kau simpan dalam matamu yang memendarkan rasa sebagai cinta sebagai benderang cahaya matahari yang memandikan tubuh kita di kala gemetar di tepi jurang nganga


Pendakian Ke Puncak

tak sampai ke puncak tak sampai keinginan ke tuju karena lungkrah langkah lelah istirah kita terduduk menatap awan keemasan langit yang membiru asap di kejauhan pasir berkelipan ditimpa cahaya matahari o tak sampai ke puncak tak sampai keinginan tak sampai tapi kita menari bermandi cahaya di dalam deru dada membuncah bahagia seikhlas menerima segala tanda rahasia


sebagai gelincir puisi

sebagai gelincir puisi dari mataku terimalah dengan sepenuh jiwa agar tiada lagi rasa takut dan kecemasan terimalah dengan peluk dan dekap hingga kau rasakan degup jantungku menyeru namamu sepenuh jiwa menyerumu sepenuh cinta menyerumu sepenuh semesta diriku yang terhuyung dengan segala luka di dada memahat huruf dengan jemari hingga bergelincir puisi dari mataku bergelincir di tebing pipi menelusuri peta-peta rahasiamu


Senin, Juni 02, 2003

Menapak Langkah, Menembus Malam

lalu kita menciptakan masa depan
dengan mimpi dan percakapan
sepanjang jalan

o malam dan lampu-lampu
demikian deras alir waktu
mengingatkan usia dan peristiwa

juga kenangan yang berkelonengan
di tiap persimpangan ingatan
nama nama juga wajah yang melintas dalam benak

dan kita tertawa menapak langkah
menembus malam
di mana kita berbahagia

Malang, 23 Mei 2003