Selasa, Oktober 14, 2003

Upacara Takdir Yang Digenapkan

1.

akulah lelaki
puisi yang kau nanti
kan datang aku
dengan segenap rindu
dan cinta
yang nyala
seperti juga rindu
dan cintamu
perempuanku

2.
sebagai cinta yang saling berbagi
maka kuterima cintamu
dalam keluasan semesta
dalam dada
dalam upacara
penyatuan jiwa
di waktu yang digenapkan
takdirnya

3.
kukalungkan di jenjang lehermu cinta
kulingkarkan di jemari manismu cinta
kuhembuskan napasku ke dalam dadamu cinta

4.
telah kubaca senyum kanak-kanak kita
dalam matamu
begitu penuh cinta

sebagai ketulusan
demikian bening

hingga kuingin terus berdiam di situ
menyelami waktu
dan hening rahasia
kata-kata

Malang, Oktober 2003

Jumat, Oktober 03, 2003

Kudekap Engkau

kudekap engkau kudekap dalam pelukku hingga terasa detak dalam dadaku dalam dadamu sebagai waktu yang terus gemuruh memanggil jiwaku jiwamu bersatu dalam lautan cahaya cintanya o cahaya maha cahaya yang melimpahlimpah cahayanya hingga lebur kita dalam lautan cahaya-nya

Malang, 3 Oktober 2003

Jiwaku

Jiwaku

jiwaku terkatup dalam dinding kaca menghamburkan ribuan huruf pada sepasang mata di ujung. jiwaku terbang bersama angin yang melambungkan anganku menjadi jutaan paradigma menjadikannya sedimen-sedimen niscaya. jiwaku berlutut dalam diam tak terpeta kuotanya memandang sepasang mata di ujung. berlari


Bila

bila nafasmu mengetuk dinding nafasku hingga tersibak jasadku menjemput bila jasadmu menyentuh epidermis tangisku hingga terkatup aku tanpa suara bila suara tinggal jeda ijinkanlah ku kembali pada persenyawaan sunyi itu, lelakiku

kacaku berdinding hatiku berdenting memanggil puisi