Rabu, Agustus 20, 2003

Cintaku! Cintaku!



cintaku! cintaku! bangunlah
terimalah salam angin pagi
demikian ramah menyapa:
bulir embun, dedaun hijau
juga engkau. cintaku

hiruplah bening hening udara,
doaku

nanangsuryadi.blogspot.com
Pada Waktu

pada kelampauan
kita berkaca

menemu harap
masa depan kita

berwarna-warna

Jumat, Agustus 15, 2003

Kekasih, Aku Demikian Letih

kekasih, aku demikian letih!
pelukdekap diriku,

agar kurasa detak dalam dadamu

yang menyeru namaku
penuh cinta dan rindu.
Sebagai Cahaya, Cinta


1.
apakah telah kau temukan cinta itu? rasakan alirnya dalam nadi dalam darah dalam jantung dalam debar denyutnya. kau rasakan kehadirannya? terimalah. jangan biarkan tersia, karena cintamu sungguh berarti bagiku. kurasakan getarnya lewat airmata doa dan senyum bahagia ikhlas menerima segala sukaduka bersama.


2.
katakanlah kau mencintaiku. setulus hati. agar tak ada lagi gamang dan takut menyapaku. karena aku mencintamu seutuh dirimu.

3.
sebagai cahaya, cinta menerang terang dalam kalbu. sebagai cahaya, cinta kita lebur dalam lautan cahaya cinta-Nya yang maha cahaya.

Selamat Malam Cinta


1.

selamat malam cinta,

malam demikian senyap mengendap,
tak ada suara

setitik cahaya menitik tanpa wicara,
menelusup dalam pasrah yang sungguh

paradoks,

manakala henti kaki mencari,
beribu penemuan pun luruh

mengilhami


2.

aku mencintaimu,
berharap selalu terbaik buatmu

3.

senja merayap pergi
tancapkan hitam di gantungan malam

terbaring aku dalam senyap
mendekapmu

sepenuh harap kau tabah
menjalani hari


4.

adalah nisbi membujurkan kakinya
dalam ruang tanpa nama

selain kegamangan
dan hampa tak menemu kunci

kau tahu cinta
tak ada nisbi

dalam gulana sejati
di titik mana kita saling mendekap

Rabu, Agustus 13, 2003

Adakah

1.

adakah sunyi
sebagai nyeri cinta

manakala dentingnya
mengalun begitu sempurna

menepi di halaman jiwa
menemu sejati


2.

adakah engkau
yang kini memanggilku
penuh rindu
menemu tuju...


Aku Mengerti


pagi ini,

kurebahkan dirimu dalam rahim kalbu
mencumbui bibirmu dengan lafadz zikir tak henti
bulir bening itu menyapu matamu tertutup pilu

tak lagi basah, bisikmu

aku mengerti bahkan ketika kau bilang diluar masihlah sama. kemarau
parau suaraku coba menjangkau tapi tanganmu pula tepiskan segala

dan berucap, pergilah kanvas senja tak lagi sama

aku mengerti bahkan ketika kurebahkan dirimu dalam rahim dunia
tak lagi punya kata. dusta

Minggu, Agustus 03, 2003

Katakan Padaku, Lelaki

Aku adalah perempuan sepi melukisi diri dengan benteng keangkuhan berharap ada kekuatan di dalamnya tapi tak kutemu selain kerapuhan

Tercabutlah sukma dari orbitnya hingga telanjang ia mengangkangi aorta kosmos –kesadaran berhamburan- kemana kiranya ia kan pergi? menujumukah duhai lelaki

Mengapa benteng itu membungkamku tuk sekedar berkata cinta? lelaki, sungguh aku tak mengerti telahkah aku kehilangannya

Lelaki, katakan padaku di mana klimaks dari segala klimaks hingga terhenti kaki di pintunya terketuk jemari tak lagi sembunyi

Katakan di mana tapal batas cinta hingga kuasa sukma menelusup bersatu dalam tauhid jihad. Kemenangan
Sepanjang Jalan Gaduh Ramai


Sepanjang jalan gaduh ramai kendaraan. klakson dan deru mesin. Macet. Sempritan tukang parkir. Parau suara tukang ngamen. Pias lampu merkuri. Dan aku? di atas bis yang terjebak di perut jakarta, merindu kekasihku


Karena Jarak

Karena jarak membentang kumerindu, duh kekasih kapan kan terlunas ini rindu, bertemu bersatu dalam dekap cintaku cintamu.


Mengapa Kau Bangun Benteng Keangkuhan

Mengapa kau bangun benteng keangkuhan bukankah kau inginkan belai setulus cinta seperti kau pinta dengan damba dan airmata suatu ketika. o kekasih, mengapa kau ragui bisik hati sendiri?


Cermin Yang Saling Memantulkan Cahaya

Aku mencintaimu seperti kau cintai diriku. Rasa sayangku padamu seperti rasa sayangmu pada diriku. Karena kau dan aku adalah cermin. Yang saling memantulkan cahaya Cinta-Nya.