Langsung ke konten utama

Puisi




dia
alfabeta
mencairkan tarian kala lamunan menjeratmu dalam beku
dia
alfabeta
mencucurkan airmatamu mencari pintu kemana hendak pergi menemu
tak kunjung manakala
dia
alfabeta
menjemputmu kala sepi menyergap kesunyian inderawi
dia
alfabeta
merangkak memintamu untuk terus bersenandung
tapi
kau mulai menghardiknya
kala kehidupan menampar mukanya sebagai pelarian semata
(sebagai mereka tertawa)
tak kah kau tahu jua, kasih
dia
alfabeta
pertemukan kita disini untuk bercinta

: andai kau sedia kisahkan padaku mengapa kau mulai membencinya
hari ini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinyalakan-Nya

Tak ada mengapa bagi cinta. Diterbitkan dalam dada kita, kehendak-Nya semata, dinyalakan-Nya dalam hati kita, sebagai cinta. Demikianlah Ia mencintai kita. Dinyalakan api cinta. Demikian lambat atau demikian cepat. Kehendak-Nya-lah. Kehendak-Nya. Semata

LENGKUNG MIMPI

Dan kanak-kanak bergelayut di alismu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Beterjunan ke jernih matamu. Telaga rinduku. O kanak-kanak yang riang. Meluncur dengan derai tawa. Dan kanak-kanak menemu senyummu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Meluncur di bibirmu. O kanak-kanak yang riang. Menemu cintamu!

Kudekap Engkau

kudekap engkau kudekap dalam pelukku hingga terasa detak dalam dadaku dalam dadamu sebagai waktu yang terus gemuruh memanggil jiwaku jiwamu bersatu dalam lautan cahaya cintanya o cahaya maha cahaya yang melimpahlimpah cahayanya hingga lebur kita dalam lautan cahaya-nya Malang, 3 Oktober 2003