Langsung ke konten utama

Dia Pergi Bersama Hujan



dini hari basah
sepasang mata teduh menyeduh serambi masjid yang sunyi
menuai hira pada sejadah basah airmata
dahaga yang tiba-tiba menyelinap kala tetabuhan merangsang
mukanya untuk bersegera pergi dari altar masjid yang
sunyi
tapi,
dia tetap tersenyum kala hela memekik dadanya
selaksa cinta terkata SUBHANALLAH

dini hari basah,
dia masih bersimpuh dalam gaduh hati meminta sejati
mencumbui sunyi diri menemu satu pintu
dibukanya lafaz IQRA

masih kudengar melodinya bersatu bersama hujan yang
tiba-tiba jatuh mengaduh bumi lelaki berdiri
bersenandung memanggil asma AR RAHIM

masih kudengar

malam meminjam cahya rembulan,
kala didekapnya aku dalam lantun AL FATIHAH
tak henti menjalar sukma menari bersama
JIHAD sentaknya seketika airmata jatuh dipelupuk
mengapa? tanyaku tak mengerti
demi titian mahabbah bisiknya mendulang senyum
mencumbuku tak tentu dalam singgasana nur illah

dini hari yang basah,
dia pergi bersama hujan bersama AL IKHLAS bersama

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinyalakan-Nya

Tak ada mengapa bagi cinta. Diterbitkan dalam dada kita, kehendak-Nya semata, dinyalakan-Nya dalam hati kita, sebagai cinta. Demikianlah Ia mencintai kita. Dinyalakan api cinta. Demikian lambat atau demikian cepat. Kehendak-Nya-lah. Kehendak-Nya. Semata

LENGKUNG MIMPI

Dan kanak-kanak bergelayut di alismu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Beterjunan ke jernih matamu. Telaga rinduku. O kanak-kanak yang riang. Meluncur dengan derai tawa. Dan kanak-kanak menemu senyummu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Meluncur di bibirmu. O kanak-kanak yang riang. Menemu cintamu!

Kudekap Engkau

kudekap engkau kudekap dalam pelukku hingga terasa detak dalam dadaku dalam dadamu sebagai waktu yang terus gemuruh memanggil jiwaku jiwamu bersatu dalam lautan cahaya cintanya o cahaya maha cahaya yang melimpahlimpah cahayanya hingga lebur kita dalam lautan cahaya-nya Malang, 3 Oktober 2003