Langsung ke konten utama

KINI AKU DI SINI MENATAP HURUF YANG MEMBURAM



kini aku di sini menatap huruf yang memburam di layar kaca dengan ketukan yang semakin lemah pada keyboard yang aus ditekan sepanjang hari hingga huruf-huruf memburam di jemariku memburam di layar kaca memburam di mataku o kemana kan kusandarkan segala letih ini hingga hilang lelah dalam istirah dalam tidur tanpa mimpi buruk diburu-buru keinginan diri mengamuk-amuk selapar-lalapar singa mengamuk karena lapar hingga ngaumnya menggeletar mencari sasar dalam nanar membayang-bayang di kejauhan bergoyang-goyang o tak ingin diri demikian gamang melayang-layang terbang mengepak kepak tak henti hingga robek sayap hingga beburung jiwa terkapar di dedasar waktu di rahasia-rahasia rindu o huruf demikian memburam dan aku merindu rengkuhmu agar rebah diri dalam pelukmu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinyalakan-Nya

Tak ada mengapa bagi cinta. Diterbitkan dalam dada kita, kehendak-Nya semata, dinyalakan-Nya dalam hati kita, sebagai cinta. Demikianlah Ia mencintai kita. Dinyalakan api cinta. Demikian lambat atau demikian cepat. Kehendak-Nya-lah. Kehendak-Nya. Semata

LENGKUNG MIMPI

Dan kanak-kanak bergelayut di alismu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Beterjunan ke jernih matamu. Telaga rinduku. O kanak-kanak yang riang. Meluncur dengan derai tawa. Dan kanak-kanak menemu senyummu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Meluncur di bibirmu. O kanak-kanak yang riang. Menemu cintamu!

Kudekap Engkau

kudekap engkau kudekap dalam pelukku hingga terasa detak dalam dadaku dalam dadamu sebagai waktu yang terus gemuruh memanggil jiwaku jiwamu bersatu dalam lautan cahaya cintanya o cahaya maha cahaya yang melimpahlimpah cahayanya hingga lebur kita dalam lautan cahaya-nya Malang, 3 Oktober 2003