Langsung ke konten utama
Melukis Malam
: NS

malam demikian senyap mengendap dalam titian lamunan
memburu waktu demi waktu yang bergantian berputaran.
Ketika,

jemari itu mengulur mengayun mendarat tepat di dadaku.
Engkau kah yang datang dalam malam simpan kelam.
Endapkan senyap merayap
Pergi. Ketika,

Jemari itu menuntun aku menelusur peristiwa
melayangkan nyawa dari rotasinya. Menjemput bintang
yang berdentang dengan senyumnya mencairkanku dalam
rona pipinya. Ketika,

Pertanyaan-pertanyaan mengalir begitu sederhana di
sela derai tawa. Mengeja jeda demi jeda tanpa

Engkaukah yang datang dalam sehalaman masa lalu
berpijaran. Patahkan kaki-kaki yang letih menghunjam
bumi. Ketika,

Tak ada lagi cerita, tanpa
Melukis malam
Tanpa
?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinyalakan-Nya

Tak ada mengapa bagi cinta. Diterbitkan dalam dada kita, kehendak-Nya semata, dinyalakan-Nya dalam hati kita, sebagai cinta. Demikianlah Ia mencintai kita. Dinyalakan api cinta. Demikian lambat atau demikian cepat. Kehendak-Nya-lah. Kehendak-Nya. Semata

Lelaki Berpuisi

Lelaki berpuisi, ketika awan begitu hitam membayangi sepi Dari jauh aku mengintai ia Satu satu air mata langit jatuh kebumi, lelaki terus berpuisi Berpuisi merajuk mata hati Ingin berlari, sembunyi Tak kuasa Inikah cinta? bibir pun tak lagi berkata Karena berdiam di sisinya, telah terkata: Cinta Kunthi Hastorini http://puisicintakita.blogspot.com

LENGKUNG MIMPI

Dan kanak-kanak bergelayut di alismu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Beterjunan ke jernih matamu. Telaga rinduku. O kanak-kanak yang riang. Meluncur dengan derai tawa. Dan kanak-kanak menemu senyummu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Meluncur di bibirmu. O kanak-kanak yang riang. Menemu cintamu!