Langsung ke konten utama
DAN KITA MEMBACA ALIFBATA KEHIDUPAN

dan kita membaca alifbata kehidupan, sebagai ayat yang terbuka untuk
ditafsirkan. terbata kita mengeja huruf demi huruf akankah khatam di tepi
usia. di ujung waktu.

dan kita membaca alifbata, sebagai ayat yang diturunkan dari lauh mahfudh,
dengan debar di dada, mengeja huruf demi huruf, sebagai peta, menuju rumah
yang telah ditinggalkan lama, menuju senyum-Nya yang dirindu

dan kita membaca alifbata, dari mata kanak-kanak kita, yang menderaskan
dengan bening jiwa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinyalakan-Nya

Tak ada mengapa bagi cinta. Diterbitkan dalam dada kita, kehendak-Nya semata, dinyalakan-Nya dalam hati kita, sebagai cinta. Demikianlah Ia mencintai kita. Dinyalakan api cinta. Demikian lambat atau demikian cepat. Kehendak-Nya-lah. Kehendak-Nya. Semata

LENGKUNG MIMPI

Dan kanak-kanak bergelayut di alismu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Beterjunan ke jernih matamu. Telaga rinduku. O kanak-kanak yang riang. Meluncur dengan derai tawa. Dan kanak-kanak menemu senyummu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Meluncur di bibirmu. O kanak-kanak yang riang. Menemu cintamu!

Kudekap Engkau

kudekap engkau kudekap dalam pelukku hingga terasa detak dalam dadaku dalam dadamu sebagai waktu yang terus gemuruh memanggil jiwaku jiwamu bersatu dalam lautan cahaya cintanya o cahaya maha cahaya yang melimpahlimpah cahayanya hingga lebur kita dalam lautan cahaya-nya Malang, 3 Oktober 2003