Langsung ke konten utama

Menatap Senja



menatap senja, demikian jingga. seperti kubisikkan di telingamu tentang sebuah cerita di suatu ketika. seorang pecinta mencari cinta, pada sebuah peta. tak ditemu jua, demikian letih berjelaga, demikian sakit berderit- derit. tak ditemu.

gelisah meresah, melungkrah darah lelah. tatkala cemburu memburu beradu. tak ditemu.

seperti kubisikkan di dadamu. seorang pecinta menyerah pasrah. sebulir bening memapah gerah. pada suatu senja, pada sebuah dekap, pada sebuah senyap. pada.

hingga, seusap tangan menyapa. papah resah dari bilik mata. demikian cinta tiba selaksa. tanpa kata. tanpa.

di ujung senja, di sebalik tabir terbuka cahaya cinta. duhai! kiranya telah ditemu rindu. cahaya di atas cahaya. demi Allah yang merindu! demi Allah! demi.

menatap senja, demikian jingga. seperti lambai tertuju bagimu.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinyalakan-Nya

Tak ada mengapa bagi cinta. Diterbitkan dalam dada kita, kehendak-Nya semata, dinyalakan-Nya dalam hati kita, sebagai cinta. Demikianlah Ia mencintai kita. Dinyalakan api cinta. Demikian lambat atau demikian cepat. Kehendak-Nya-lah. Kehendak-Nya. Semata

LENGKUNG MIMPI

Dan kanak-kanak bergelayut di alismu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Beterjunan ke jernih matamu. Telaga rinduku. O kanak-kanak yang riang. Meluncur dengan derai tawa. Dan kanak-kanak menemu senyummu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Meluncur di bibirmu. O kanak-kanak yang riang. Menemu cintamu!

Kudekap Engkau

kudekap engkau kudekap dalam pelukku hingga terasa detak dalam dadaku dalam dadamu sebagai waktu yang terus gemuruh memanggil jiwaku jiwamu bersatu dalam lautan cahaya cintanya o cahaya maha cahaya yang melimpahlimpah cahayanya hingga lebur kita dalam lautan cahaya-nya Malang, 3 Oktober 2003