Langsung ke konten utama

Menapak Jejak di Jalan Setapak



Di jalan setapak seorang yang merindu menapak jejak
Melangkahlah ia melangkah mencari Kekasih

“Inikah setapak jalan menuju Engkau?”

Sepanjang jalan pepohonan berkesiur ditiup angin, melambai-lambai
Serangga berdenging bersahutan, burung-burung bernyanyi riang

“Aku tuju Engkau, ya Kekasih. Sambutlah aku dengan senyummu!”

Pohonan terdengar menzikirkan nama Kekasih
Serangga bersahutan mengamini, burung-burung mendawamkan Rindu

“O Cinta, kan sampai aku di hadapmu!”

Jalan setapak licin menanjak menurun mencuram tajam
Membelah lembah-lembah membelah gunung-gunung

“O, kan sampai aku padamu?”

Wajah sang perindu demikian cahaya
Menapak jejak di jalan setapak

Mencari Kekasih yang selalu dirindu. Tak henti

Depok, 31 Mei 2002

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinyalakan-Nya

Tak ada mengapa bagi cinta. Diterbitkan dalam dada kita, kehendak-Nya semata, dinyalakan-Nya dalam hati kita, sebagai cinta. Demikianlah Ia mencintai kita. Dinyalakan api cinta. Demikian lambat atau demikian cepat. Kehendak-Nya-lah. Kehendak-Nya. Semata

LENGKUNG MIMPI

Dan kanak-kanak bergelayut di alismu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Beterjunan ke jernih matamu. Telaga rinduku. O kanak-kanak yang riang. Meluncur dengan derai tawa. Dan kanak-kanak menemu senyummu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Meluncur di bibirmu. O kanak-kanak yang riang. Menemu cintamu!

Kudekap Engkau

kudekap engkau kudekap dalam pelukku hingga terasa detak dalam dadaku dalam dadamu sebagai waktu yang terus gemuruh memanggil jiwaku jiwamu bersatu dalam lautan cahaya cintanya o cahaya maha cahaya yang melimpahlimpah cahayanya hingga lebur kita dalam lautan cahaya-nya Malang, 3 Oktober 2003