Langsung ke konten utama
JERIT KOTA KEKASIH

dimana kau tinggalkan jejak, pada sunyi yang berhamburan di mataku.
tak kau tahu ragu berkejaran di dadaku.

dimana kau tuliskan cerita, pada hening yang bergulir di matamu.
tak kau pahami tanya berdesakan dikepalaku.

kuadukan pada gerimis senja itu. tapi dia bisu.
kuadukan pada angin memburu. tapi diapun ragu.

hingga, mengangkasa jerit batinku pada langit. dan
kutuliskan di situ: kapan kau kan pulang untukku?

di antara laju kereta kau pun pergi tinggalkan aku.
dalam sunyi rangkulku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinyalakan-Nya

Tak ada mengapa bagi cinta. Diterbitkan dalam dada kita, kehendak-Nya semata, dinyalakan-Nya dalam hati kita, sebagai cinta. Demikianlah Ia mencintai kita. Dinyalakan api cinta. Demikian lambat atau demikian cepat. Kehendak-Nya-lah. Kehendak-Nya. Semata

LENGKUNG MIMPI

Dan kanak-kanak bergelayut di alismu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Beterjunan ke jernih matamu. Telaga rinduku. O kanak-kanak yang riang. Meluncur dengan derai tawa. Dan kanak-kanak menemu senyummu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Meluncur di bibirmu. O kanak-kanak yang riang. Menemu cintamu!

Kudekap Engkau

kudekap engkau kudekap dalam pelukku hingga terasa detak dalam dadaku dalam dadamu sebagai waktu yang terus gemuruh memanggil jiwaku jiwamu bersatu dalam lautan cahaya cintanya o cahaya maha cahaya yang melimpahlimpah cahayanya hingga lebur kita dalam lautan cahaya-nya Malang, 3 Oktober 2003