Langsung ke konten utama
DUHAI PECINTA ISTIRAHLAH!

tak bersuara ia di satu masa. dingin seolah tak
bernyawa. telah laknat segala peristiwa. juga luka. demikian tangis tersia tak bersambut tawa.

bersenda maya ia di suatu ketika. selalu dan selalu. seakan tak jera. sebagai sihir dunia selalu menggelitik gemerisik. demikian tipu melulu merayu.

duhai pecinta. istirahlah! tak guna dicari cinta
didunia yang telah tiada nyawa. nyawa-nyawa itu telah terusir disatu ketika. pada tangis khianat. pada rimismeranggas kering kerontang. kosong!

duhai pecinta. berhentilah! tak guna diharap cerita di dunia yang telah berdusta. dusta-dusta itu telah merasuk dalam bangkai-bangkai penuh ulat. pada jasad yang hina. pada kepentingan-kepentingan membuta aksara cinta.

dan, bermuara segala pusar rindumu menemu yang satu.

satu!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinyalakan-Nya

Tak ada mengapa bagi cinta. Diterbitkan dalam dada kita, kehendak-Nya semata, dinyalakan-Nya dalam hati kita, sebagai cinta. Demikianlah Ia mencintai kita. Dinyalakan api cinta. Demikian lambat atau demikian cepat. Kehendak-Nya-lah. Kehendak-Nya. Semata

LENGKUNG MIMPI

Dan kanak-kanak bergelayut di alismu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Beterjunan ke jernih matamu. Telaga rinduku. O kanak-kanak yang riang. Meluncur dengan derai tawa. Dan kanak-kanak menemu senyummu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Meluncur di bibirmu. O kanak-kanak yang riang. Menemu cintamu!

Kudekap Engkau

kudekap engkau kudekap dalam pelukku hingga terasa detak dalam dadaku dalam dadamu sebagai waktu yang terus gemuruh memanggil jiwaku jiwamu bersatu dalam lautan cahaya cintanya o cahaya maha cahaya yang melimpahlimpah cahayanya hingga lebur kita dalam lautan cahaya-nya Malang, 3 Oktober 2003