Langsung ke konten utama
DI SEBUAH KEDAI COKLAT

Harum rempah-rempah. Dalam secangkir coklat. Hangatnya mengusir dingin. Udara sehabis hujan seharian.
Dalam gigilku sendirian. Mengingat wajahmu. Mengingat derai tawa manjamu. Dalam remang cahaya. Aku mulai menulis: coklat….

Secangkir coklat hangat. Di kala aku merindukan dirimu. Tatap dan senyummu membayang. Di pelupuk mata berduyun kenangan. Diputar demikian manis. Demikian hangat. Menelusur ke dalam dadaku.

Depok, 2002

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinyalakan-Nya

Tak ada mengapa bagi cinta. Diterbitkan dalam dada kita, kehendak-Nya semata, dinyalakan-Nya dalam hati kita, sebagai cinta. Demikianlah Ia mencintai kita. Dinyalakan api cinta. Demikian lambat atau demikian cepat. Kehendak-Nya-lah. Kehendak-Nya. Semata

LENGKUNG MIMPI

Dan kanak-kanak bergelayut di alismu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Beterjunan ke jernih matamu. Telaga rinduku. O kanak-kanak yang riang. Meluncur dengan derai tawa. Dan kanak-kanak menemu senyummu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Meluncur di bibirmu. O kanak-kanak yang riang. Menemu cintamu!

Kudekap Engkau

kudekap engkau kudekap dalam pelukku hingga terasa detak dalam dadaku dalam dadamu sebagai waktu yang terus gemuruh memanggil jiwaku jiwamu bersatu dalam lautan cahaya cintanya o cahaya maha cahaya yang melimpahlimpah cahayanya hingga lebur kita dalam lautan cahaya-nya Malang, 3 Oktober 2003