Langsung ke konten utama
Senja di Alun-Alun Kota

ada yang berpendar pada air yang memancur,
cahaya matahari senja,

lampu jalan, lampu taman, mulai dinyalakan

apa yang kita bicarakan di situ,
pada desir angin dingin

kanak-kanak yang meniup gelembung sabun

lihat tawanya, menyeringaikan gigi yang baru tumbuh,
ah, seperti juga kanak yang kutatap di matamu

terkekeh demikian riang,

senja merapat, gelap melindap cahaya
gema azan menelusup ke dalam dada kita

di sebuah senja

Malang, Agustus 2002

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinyalakan-Nya

Tak ada mengapa bagi cinta. Diterbitkan dalam dada kita, kehendak-Nya semata, dinyalakan-Nya dalam hati kita, sebagai cinta. Demikianlah Ia mencintai kita. Dinyalakan api cinta. Demikian lambat atau demikian cepat. Kehendak-Nya-lah. Kehendak-Nya. Semata

LENGKUNG MIMPI

Dan kanak-kanak bergelayut di alismu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Beterjunan ke jernih matamu. Telaga rinduku. O kanak-kanak yang riang. Meluncur dengan derai tawa. Dan kanak-kanak menemu senyummu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Meluncur di bibirmu. O kanak-kanak yang riang. Menemu cintamu!

Kudekap Engkau

kudekap engkau kudekap dalam pelukku hingga terasa detak dalam dadaku dalam dadamu sebagai waktu yang terus gemuruh memanggil jiwaku jiwamu bersatu dalam lautan cahaya cintanya o cahaya maha cahaya yang melimpahlimpah cahayanya hingga lebur kita dalam lautan cahaya-nya Malang, 3 Oktober 2003