Langsung ke konten utama
SEBAGAI EMBUN DI SUDUT WAKTU

Sebagai embun di sudut waktu. Dikekalkan menjadi pendar cahaya. Di matamu, sayang didongengkan mimpi-mimpi kita. Orang yang tak henti melangkah.

Tercatat pada ingatan. Negeri di jauh lampau. Di sebuah entah. Dan kita merindu untuk pulang.

Kita bersenandung lirih dan perih: “Lihatlah, lihatlah, luka-luka kami, Kekasih. Merindu-rindu wajahmu.”

Peluh mengucur sebagai keluh. Kita berarak dengan dada yang riuh dan gaduh. Mengetuk pintu-pintu di segala waktu. Dengan segala aduh nyeri rindu yang penuh. Meluber mencari teduh wajah, dalam ingatan. Tak pernah luruh.

Gemuruh rindu menggelombang: “mari pulang, marilah pulang, marilah pulang bersama-sama.”

Sebagai embun di sudut waktu. Di matamu sayang, bergulir berpendar cahaya matahari. Dikekalkan ingatan menuju pulang. Menemu kembali wajahnya di surga yang hilang.

Depok, 2002

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinyalakan-Nya

Tak ada mengapa bagi cinta. Diterbitkan dalam dada kita, kehendak-Nya semata, dinyalakan-Nya dalam hati kita, sebagai cinta. Demikianlah Ia mencintai kita. Dinyalakan api cinta. Demikian lambat atau demikian cepat. Kehendak-Nya-lah. Kehendak-Nya. Semata

LENGKUNG MIMPI

Dan kanak-kanak bergelayut di alismu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Beterjunan ke jernih matamu. Telaga rinduku. O kanak-kanak yang riang. Meluncur dengan derai tawa. Dan kanak-kanak menemu senyummu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Meluncur di bibirmu. O kanak-kanak yang riang. Menemu cintamu!
SEPERTI KULIHAT CINTA DI MATANYA seperti kulihat cinta di matanya berkata.kata siapa cinta tak ada. dia ada dalam tiada. tiada dalam ada. sebab ia ada dan tiada itu sendiri. bagaimana kita memaknainya. seperti kulihat binar di matanya bicara. kata siapa cinta itu dusta. sebagaimana perjumpaan ruh di pelaminan jiwa. saling mengenal dan berbincang. mesra. kau aku dia semua adalah cinta. kau aku dia semua adalah dusta. bagaimana kita memaknainya. cinta!