Kamis, April 17, 2003

RASA SERUPA ANGIN, CINTA SERUPA UDARA

adakalanya mungkin rasa kan bersinar begitu terang. tapi, adakalanya ia akan memburam. semuram lilin yang kan padam. kita tak bisa menolakkan itu karena itulah kemestian. itulah hukum alam. mungkin, kita kan melawan, menolakkan pinta hati. jangan! rasa serupa angin tak bisa dipaksakan. berbeda maknanya dengan cinta. dia serupa udara. ada sebagai hakikatnya. tak kan berhenti. meskipun, mungkin disakiti dengan beribu belati. tapi dia ada dan akan tetap ada. maka, mengapa berduka bila ada cinta?


PUISIKU

bagiku, puisi adalah dirimu. bukan yang terketuk dalam keyboard yang bisu. bukan huruf yang tercetak dalam layar komputer.

yang aku rindu adalah suaramu. adalah senyummu dan kebahagiaanmu yang sungguh. bukan gelisah.

tapi, apalah hidup tanpa gelisah. mungkin hanya kematian yang dijumpa. sebab hidup adalah kegelisahan-kegelisahan.

takutkah engkau menghadapi kemestian dan kepastian?



MENYULAM WAKTU

waktu bernafas meremas ingin berburu rindu pada padu yang sungguh merasuk di antara kepingan keheningan. seperti detaknya kudengar selalu. kau dengar?

demikian kehidupan berhamburan

telanjang