Jumat, Maret 21, 2003

Kau Yang Berdiam Dalam Kesunyian

kau yang berdiam dalam kesunyian menyepi diri menyepi hingga sampai pada titik di mana kau serahkan diri dalam penyerahan sepenuhnya penyerahan melebur diri melebur dalam gerak semesta tunduk pasrah pada kehendak inginnya semata sebagai satu kau tuju sebagai satu dimula kau rindu sebagai satu dimula kau cinta sebagai satu kau kembali o alir airmata mengalirlah mengalir dalam senyap dalam tanya mengharap jawab agar sangsi tak lagi merintangi agar ragu tak lagi mengganggu agar tegar agar yakin diri melangkahkan kaki melangkah hingga sampai hingga pada

satu!

Depok, 7 Maret 2003


Kutelusuri Jejak Airmata

kutelusuri jejak airmata sebagai cintamu yang mengalir dari kedalaman jiwa o hening tatap dalam senyap merindu-rindu dirimu kutelusuri jejakmu dalam sunyi tak ada suara tak ada aksara dimana engkau apakabar engkau o yang menyimpan rahasia dalam dada dengan bibir terkatup dalam gemetar jemari menulis hari-hari gelisah tanyamu sendiri tentang segala yang menggoda cakrawala dalam benak angan ingin mimpimu o tanya yang diteriakkan dalam hati dengan nyeri hingga airmata mengalir mencari jawabnya dalam getar kalbu sepi sendiri menyapa kekasih diri

Depok, 7 Maret 2003


Sebagai Tanyamu

sebagai tanyamu pada cakrawala diam pada tebing-tebing waktu gaungnya menggema dalam dada sendiri membusur ingatan pada peristiwa yang menggoreskan perihnya ke dalam ingatan yang menyimpan kerinduan pada embun yang basuh dahaga hausmu o engkau yang menari di sunyi sendiri dalam tanya sendiri

Depok, 7 Maret 2003


Menelusur Bayang Wajahmu

menelusur bayang wajahmu o ingatan yang tak henti merindu menghitung detik demi detik waktu menunggu dan menunggu hingga saat bertemu dalam satu tuju pintamu dalam satu tuju tanyamu dalam satu tuju cintamu dalam satu jawabmu

Depok, 7 Maret 2003



SEBAB AKU PEREMPUAN

Untuk: Nanang Suryadi

1.

apakah aku tidak boleh takut engkau pergi tak kembali. apakah aku tak boleh marah apabila engkau terasa begitu jauh dari jejemari hari. apakah aku tidak boleh bersedih melepaskan kau pergi tanpa bisa berkata jangan. apakah aku hanya bisa bergumam mencari kejujuran sedangkan kau diam memandang aku yang selalu malu untuk sekedar mengakui: aku perempuan

2.

perempuan memendam rahasia sendiri dari bibir yang terkunci dari mata yang meredup dari tangan yang terkatup. yang mungkin tak kau mengerti karena engkau lelaki

3.

perempuan menyimpan tulang rusuk lelaki. ia adalah bagian dari keseluruhan sebagai engkau keseluruhan dari sebagian.tak kah kau pahami kadangkala ia akan retak dan meminta penggenapan. tak kah kau pahami?

NAFAS DZIKIR

bersetubuhlah bersama udara menerbang sesayap helai
nafasmu mendispersikan ribuan warna pelangi. surga

bernyanyilah bersama ribuan molekul bergumul rindu tak
henti-henti mencari sejati.hingga

di titik inilah kan kau serap produk ekstraksi dari
ribuan anomali ribuan basa-basi.hingga

teguklah sebiji inti sarinya bermesra cinta. purba

berdzikirlah setiap sudut sendi raga hati jiwa ruh
mendawamkan senandung kemahasempurnaan penciptaan.
keseimbangan-keseimbangan rahasia yang kan kau nikmati
dalam tiap seduh teh keingintahuanmu.hingga

bacalah ribuan kemahabesaran tak terkata tak terpeta.hingga
tak henti bibirmu mengeja kata:syukur



DIAM

sisakan sedetik saja waktu menatap hening daun diam. meredam gaduh yang mengaduh dari bilik-bilik kosong jiwa.
temuilah syairnya mengejewantah pasrah pada angin yang meniup ruh kebahagiaan.



HIDUP BUKANLAH PENDERITAAN

tuliskan harmoni keberadaan dan ketiadaan dalam simphoni hati. hingga dapat kau lukis pula disitu anggunnya dalam kanvas nafas cinta.

(diamlah sejenak)