Selasa, Desember 30, 2003

Adakah Lagi Puisi

adakah lagi puisi untukku? katamu. aku termangu. karena engkau adalah puisi. cinta kita puisi. selalu. kita tulis dan baca setiap waktu.

Selasa, Desember 16, 2003

Dengan Jejemari Kita



dengan jejemari kita diusung bebatu
membangun bangunan
yang kita impikan

dengan jejemari kita dipulas warna
menghias dinding
yang kita angankan

dengan jejemari kita dirangkum cinta
mengisi semesta
yang kita rindukan

Rabu, November 19, 2003

Leburlah: Aku Mencintaimu!



Aku mencintaimu

Demikian selalu kukatakan padamu
Walau bukan dengan kata-kata

Walau
Hanya dengan airmata

Tapi mengapa selalu kau simpan
Kecemasan itu

Gemuruh panasnya kurasakan
Demikian pedih

O, yang kucinta
Aku termangu dalam pusaran

Kebingungan
Tak mengerti apa yang terjadi

Aku lelaki
Engkau perempuan

Demikian takdir mempertemukan kita
Pada peta yang tak terbaca

Selain airmata
Selain hela napas

Selain jerit yang mengguncang arasy

Leburlah
Leburlah

Pada cahaya cinta-Nya semata

Karena aku tiada abadi
Karena engkau tiada abadi

Karena hanya cinta-Nya
Yang abadi

Seperti
Satu, pintamu!

Malang, Nopember 2003


TERIMALAH

Inilah cinta kami, sebagai cahaya
Terimalah
Dalam lautan cahaya cintamu

Biarkan lebur diri
Dalam cahaya airmata bahagia
Menemu palung teka-tekimu

O, yang kekal
Biar dipagut segala rahasia
Dengan segala debar rindu

Menemu jawabmu
Menemu

Di balik tabir
Sesibak demi sesibak
Cahaya

Cintamu

Malang, Nopember 2003


Sebagai Bahagia Kurasa

Sebagai bahagia kurasa
Takkah kau lihat cahayanya menyelinap
Dari sorot mata

Sebagai bahagia kurasa
Takkah kau dengar detaknya
Dari balik dada

Sebagai bahagia kurasa
Takkah kau rasa cintanya menyapa
Dari seutuh jiwa

Sebagai bahagia kurasa
Sebagai cinta kurasa

Tak kah engkau ingin menerima
Seutuhnya!

Malang, Nopember 2003

Selasa, Oktober 14, 2003

Upacara Takdir Yang Digenapkan

1.

akulah lelaki
puisi yang kau nanti
kan datang aku
dengan segenap rindu
dan cinta
yang nyala
seperti juga rindu
dan cintamu
perempuanku

2.
sebagai cinta yang saling berbagi
maka kuterima cintamu
dalam keluasan semesta
dalam dada
dalam upacara
penyatuan jiwa
di waktu yang digenapkan
takdirnya

3.
kukalungkan di jenjang lehermu cinta
kulingkarkan di jemari manismu cinta
kuhembuskan napasku ke dalam dadamu cinta

4.
telah kubaca senyum kanak-kanak kita
dalam matamu
begitu penuh cinta

sebagai ketulusan
demikian bening

hingga kuingin terus berdiam di situ
menyelami waktu
dan hening rahasia
kata-kata

Malang, Oktober 2003

Jumat, Oktober 03, 2003

Kudekap Engkau

kudekap engkau kudekap dalam pelukku hingga terasa detak dalam dadaku dalam dadamu sebagai waktu yang terus gemuruh memanggil jiwaku jiwamu bersatu dalam lautan cahaya cintanya o cahaya maha cahaya yang melimpahlimpah cahayanya hingga lebur kita dalam lautan cahaya-nya

Malang, 3 Oktober 2003

Jiwaku

Jiwaku

jiwaku terkatup dalam dinding kaca menghamburkan ribuan huruf pada sepasang mata di ujung. jiwaku terbang bersama angin yang melambungkan anganku menjadi jutaan paradigma menjadikannya sedimen-sedimen niscaya. jiwaku berlutut dalam diam tak terpeta kuotanya memandang sepasang mata di ujung. berlari


Bila

bila nafasmu mengetuk dinding nafasku hingga tersibak jasadku menjemput bila jasadmu menyentuh epidermis tangisku hingga terkatup aku tanpa suara bila suara tinggal jeda ijinkanlah ku kembali pada persenyawaan sunyi itu, lelakiku

kacaku berdinding hatiku berdenting memanggil puisi

Rabu, September 10, 2003

Puisi




dia
alfabeta
mencairkan tarian kala lamunan menjeratmu dalam beku
dia
alfabeta
mencucurkan airmatamu mencari pintu kemana hendak pergi menemu
tak kunjung manakala
dia
alfabeta
menjemputmu kala sepi menyergap kesunyian inderawi
dia
alfabeta
merangkak memintamu untuk terus bersenandung
tapi
kau mulai menghardiknya
kala kehidupan menampar mukanya sebagai pelarian semata
(sebagai mereka tertawa)
tak kah kau tahu jua, kasih
dia
alfabeta
pertemukan kita disini untuk bercinta

: andai kau sedia kisahkan padaku mengapa kau mulai membencinya
hari ini

Dia Pergi Bersama Hujan



dini hari basah
sepasang mata teduh menyeduh serambi masjid yang sunyi
menuai hira pada sejadah basah airmata
dahaga yang tiba-tiba menyelinap kala tetabuhan merangsang
mukanya untuk bersegera pergi dari altar masjid yang
sunyi
tapi,
dia tetap tersenyum kala hela memekik dadanya
selaksa cinta terkata SUBHANALLAH

dini hari basah,
dia masih bersimpuh dalam gaduh hati meminta sejati
mencumbui sunyi diri menemu satu pintu
dibukanya lafaz IQRA

masih kudengar melodinya bersatu bersama hujan yang
tiba-tiba jatuh mengaduh bumi lelaki berdiri
bersenandung memanggil asma AR RAHIM

masih kudengar

malam meminjam cahya rembulan,
kala didekapnya aku dalam lantun AL FATIHAH
tak henti menjalar sukma menari bersama
JIHAD sentaknya seketika airmata jatuh dipelupuk
mengapa? tanyaku tak mengerti
demi titian mahabbah bisiknya mendulang senyum
mencumbuku tak tentu dalam singgasana nur illah

dini hari yang basah,
dia pergi bersama hujan bersama AL IKHLAS bersama

Rabu, Agustus 20, 2003

Cintaku! Cintaku!



cintaku! cintaku! bangunlah
terimalah salam angin pagi
demikian ramah menyapa:
bulir embun, dedaun hijau
juga engkau. cintaku

hiruplah bening hening udara,
doaku

nanangsuryadi.blogspot.com
Pada Waktu

pada kelampauan
kita berkaca

menemu harap
masa depan kita

berwarna-warna

Jumat, Agustus 15, 2003

Kekasih, Aku Demikian Letih

kekasih, aku demikian letih!
pelukdekap diriku,

agar kurasa detak dalam dadamu

yang menyeru namaku
penuh cinta dan rindu.
Sebagai Cahaya, Cinta


1.
apakah telah kau temukan cinta itu? rasakan alirnya dalam nadi dalam darah dalam jantung dalam debar denyutnya. kau rasakan kehadirannya? terimalah. jangan biarkan tersia, karena cintamu sungguh berarti bagiku. kurasakan getarnya lewat airmata doa dan senyum bahagia ikhlas menerima segala sukaduka bersama.


2.
katakanlah kau mencintaiku. setulus hati. agar tak ada lagi gamang dan takut menyapaku. karena aku mencintamu seutuh dirimu.

3.
sebagai cahaya, cinta menerang terang dalam kalbu. sebagai cahaya, cinta kita lebur dalam lautan cahaya cinta-Nya yang maha cahaya.

Selamat Malam Cinta


1.

selamat malam cinta,

malam demikian senyap mengendap,
tak ada suara

setitik cahaya menitik tanpa wicara,
menelusup dalam pasrah yang sungguh

paradoks,

manakala henti kaki mencari,
beribu penemuan pun luruh

mengilhami


2.

aku mencintaimu,
berharap selalu terbaik buatmu

3.

senja merayap pergi
tancapkan hitam di gantungan malam

terbaring aku dalam senyap
mendekapmu

sepenuh harap kau tabah
menjalani hari


4.

adalah nisbi membujurkan kakinya
dalam ruang tanpa nama

selain kegamangan
dan hampa tak menemu kunci

kau tahu cinta
tak ada nisbi

dalam gulana sejati
di titik mana kita saling mendekap

Rabu, Agustus 13, 2003

Adakah

1.

adakah sunyi
sebagai nyeri cinta

manakala dentingnya
mengalun begitu sempurna

menepi di halaman jiwa
menemu sejati


2.

adakah engkau
yang kini memanggilku
penuh rindu
menemu tuju...


Aku Mengerti


pagi ini,

kurebahkan dirimu dalam rahim kalbu
mencumbui bibirmu dengan lafadz zikir tak henti
bulir bening itu menyapu matamu tertutup pilu

tak lagi basah, bisikmu

aku mengerti bahkan ketika kau bilang diluar masihlah sama. kemarau
parau suaraku coba menjangkau tapi tanganmu pula tepiskan segala

dan berucap, pergilah kanvas senja tak lagi sama

aku mengerti bahkan ketika kurebahkan dirimu dalam rahim dunia
tak lagi punya kata. dusta

Minggu, Agustus 03, 2003

Katakan Padaku, Lelaki

Aku adalah perempuan sepi melukisi diri dengan benteng keangkuhan berharap ada kekuatan di dalamnya tapi tak kutemu selain kerapuhan

Tercabutlah sukma dari orbitnya hingga telanjang ia mengangkangi aorta kosmos –kesadaran berhamburan- kemana kiranya ia kan pergi? menujumukah duhai lelaki

Mengapa benteng itu membungkamku tuk sekedar berkata cinta? lelaki, sungguh aku tak mengerti telahkah aku kehilangannya

Lelaki, katakan padaku di mana klimaks dari segala klimaks hingga terhenti kaki di pintunya terketuk jemari tak lagi sembunyi

Katakan di mana tapal batas cinta hingga kuasa sukma menelusup bersatu dalam tauhid jihad. Kemenangan
Sepanjang Jalan Gaduh Ramai


Sepanjang jalan gaduh ramai kendaraan. klakson dan deru mesin. Macet. Sempritan tukang parkir. Parau suara tukang ngamen. Pias lampu merkuri. Dan aku? di atas bis yang terjebak di perut jakarta, merindu kekasihku


Karena Jarak

Karena jarak membentang kumerindu, duh kekasih kapan kan terlunas ini rindu, bertemu bersatu dalam dekap cintaku cintamu.


Mengapa Kau Bangun Benteng Keangkuhan

Mengapa kau bangun benteng keangkuhan bukankah kau inginkan belai setulus cinta seperti kau pinta dengan damba dan airmata suatu ketika. o kekasih, mengapa kau ragui bisik hati sendiri?


Cermin Yang Saling Memantulkan Cahaya

Aku mencintaimu seperti kau cintai diriku. Rasa sayangku padamu seperti rasa sayangmu pada diriku. Karena kau dan aku adalah cermin. Yang saling memantulkan cahaya Cinta-Nya.


Jumat, Juli 18, 2003

Apakah

seringkali bertanya aku dalam hati dimana ujung dari segala ujung inginku mencumbui ingin dari segala ingin mengutuki gamang dari segala gamang hingga genaplah diri genap tanpa lagi tanya iri hati pada mereka berpasangan memandang hidup dengan demikian tegas mewarnai angkasa raya dengan kesejatian cinta kemestian setiap manusia iri hati pada mereka yang mendahuluiku mengenalinya dari balik tabir-tabir cuaca kehidupan iri hati tak terjawab jua (apakah aku masih terlalu bodoh dan angkuh memaknainya?)



Di Sini

di sini
kulampirkan segenggam aksara bagi lelaki di ujung
musim sunyi
menyapanya dengan seraut tanya mengapa tak jua ia
bicara bahkan bergeming meski sekedar

disini
menanti kembali aksara darimu
tak kah kau mau menyapaku jua
?

Aku Demikian Letih

aku demikian letih didera.
waktu yang tak peduli

terperangkap terhisap kenisbian.
kenihilan.

tak ada makna.
kosong.

diri lenyap.
ditatap hadap keabadian.

Senin, Juli 14, 2003

Kujemput Engkau

ku jemput engkau lagi malam ini lelakiku kala nyelinap rasa tak biasa mengaduk-adukmu di titik dimana mesti kaki menitik. puisi
kujemput engkau sama kala kau jemput aku ketika musim itu gigilkanku dalam tanya.sebatang cinta
ku jemput engkau hingga lingsut segenap nyeri segenap gelisah segenap rindu segenap-genapnya. padamu

Minggu, Juli 13, 2003

Rotasi Ketigapuluh

rotasi ketigapuluh kali ini
terhisap cerutu kehidupan
sang waktu berdetik
di titik yang sama: diam

Sepenuh Napas

sepenuh napas menggemas
sepenuh cinta menghempas

buliran duka bersama
Ada Yang Tiba Tiba

ada yang tiba tiba menyelinap dalam dada mungkin rasa cemburu tapi siapakah yang mengeja huruf huruf itu sebagai rasa rindu dan cinta karena mungkin telah ditafsirkan pada segala tanda cuaca sebagai metafora yang diulang ulang dalam diksi yang tak henti didawamkan dalam puisi karena engkau mulai membenci puisi dan gemuruh yang tak henti henti menggelegar dalam dada dengan tanya dengan segala gelisah dengan segala cemas dengan segala khawatir o ke mana kan dilabuhkan ke mana segala mimpi segala harap segala ingin segala kehendak karena tiba tiba saja ada yang terasa menyelinap mungkin rasa cemburu atau sebuah ketakutan akan kehilangan


Sabtu, Juni 28, 2003

Dan Lagi

apa kabar. aku jatuh cinta lagi. dan lagi. dan lagi. kepadamu. berulangkali.



Ada

ada yang menggelincir pada mula fajar mungkin airmata yang mengalir mencari muara

ada yang meluncur pada mula fajar mungkin doa yang mengetuk pintu langit sebagai pinta bagi cinta kita yang terjaga


Mimpi


lesat dari mimpinya
yang menggurat dengan telunjuk pada bayang bayang

mungkin matanya yang berbinar cahaya
karena airmata

ingin membuka pintu langit
dengan cintanya yang tak terhingga



Rabu, Juni 18, 2003

KAU DENGAN CINTAMU YANG MEMBISU


1.
Di rongga dada penuh cinta kucari mata air yang kan lunaskan dahaga hausku hingga di mata air kasih sayangmu kekasih kuteguk berabad kerinduan akan perjumpaan

2.
Aku menyeru namamu dalam bayang senyum di rentang jarak waktu sebuah ingatan yang tak hendak pergi karena kutetap mencinta dengan sepenuh jiwa setulus airmata

Di sela angka dan huruf kubaca cintamu penuh doa dengan pinta kita tetap bahagia bersama menata huruf dan angka usia hingga senja segala senja menjemput dan memeluk kita

Dalam rengkuhnya segala rahasia terbuka dan tanya menemu jawabnya di tahta neraca perhitungan perjalanan kita mencari wajahnya yang selalu dirindu dengan airmata luka

Dan kita menyodorkan luka di seluruh tubuh karena cinta dan rindu menempuh tajam terjal pendakian tak henti hingga menjelma mimpi hingga menjadi apa yang dipinta

3.
Kau dengan cintamu yang membisu tapi kudengar degupnya membuncah dalam dada penuh kerinduan yang tak terucapkan tapi terasakan suaranya nyaring di telinga jiwa memanggilku

4.
Akulah puisi yang menyala dalam sunyi karena tatapmu yang cemburu bikin lengang hari bikin nyala puisi meredup tinggal mati sendiri dan sepi dan sendiri sepi


Sabtu, Juni 14, 2003

Catatan Di Bromo

11.

ritmis lelampu lilin menjaring udara kata terlontar dari gemetar bibirmu membusa

jeritkan puitis menggarisi pelangi

mimpi



katakan penyair, di kata yang mana bisa kujumpai dirimu

sesungguhnya



restogama

040603




13.

surya perlahan memanjati sunyi bebukit pananjakan

menelanjangi titik-titik beku di telapak tanganmu

rayapi sekujur debarku dengan kehangatan yang sungguh

tak kah kau malu pada debu yang melilipi matamu, tanyaku lirih

tak, karena mereka tak mengenal cinta, jawabmu tak kalah lirih



perlahan surya pun membasahi bibirmu dengan kerlingan nakal

demikian mungkin cinta berujar



bromo

070603

http://kunthihastorini.blogspot.com



Jingga Bola Matahari

jingga bola matahari di senja kala aku merindukanmu sebagai dekap peluk sepenuh cintamu yang utuh hangatkan gigil dada dan bibir gemetar menelusur rahasia dengan tatap redup mata


Aku Yakin

aku yakin pada cintamu padaku sebagai ketulusan yang sanggup mengalahkan rasa takut dan gelisah ragu karena kau tahu aku demikian mencintai dirimu utuh sebagai penerimaan atas kehendak


Sebagai Hati Yang Menerima

sebagai hati yang menerima cinta dengan tulus demikianlah kan diterima segala sukaduka segala tangistawa segala dukabahagia segala beda apa adanya

Selasa, Juni 10, 2003

Dimanakah Puisi

di manakah puisi kekasihku apakah pada semburat cahaya matahari yang memandikan diri kita di saat gigil diri menatap biru langit bebatuan dan ringkik kuda di manakah puisi kekasih di manakah apakah kau simpan dalam dekap pelukmu adakah kau simpan dalam dada adakah kau simpan dalam matamu yang memendarkan rasa sebagai cinta sebagai benderang cahaya matahari yang memandikan tubuh kita di kala gemetar di tepi jurang nganga


Pendakian Ke Puncak

tak sampai ke puncak tak sampai keinginan ke tuju karena lungkrah langkah lelah istirah kita terduduk menatap awan keemasan langit yang membiru asap di kejauhan pasir berkelipan ditimpa cahaya matahari o tak sampai ke puncak tak sampai keinginan tak sampai tapi kita menari bermandi cahaya di dalam deru dada membuncah bahagia seikhlas menerima segala tanda rahasia


sebagai gelincir puisi

sebagai gelincir puisi dari mataku terimalah dengan sepenuh jiwa agar tiada lagi rasa takut dan kecemasan terimalah dengan peluk dan dekap hingga kau rasakan degup jantungku menyeru namamu sepenuh jiwa menyerumu sepenuh cinta menyerumu sepenuh semesta diriku yang terhuyung dengan segala luka di dada memahat huruf dengan jemari hingga bergelincir puisi dari mataku bergelincir di tebing pipi menelusuri peta-peta rahasiamu


Senin, Juni 02, 2003

Menapak Langkah, Menembus Malam

lalu kita menciptakan masa depan
dengan mimpi dan percakapan
sepanjang jalan

o malam dan lampu-lampu
demikian deras alir waktu
mengingatkan usia dan peristiwa

juga kenangan yang berkelonengan
di tiap persimpangan ingatan
nama nama juga wajah yang melintas dalam benak

dan kita tertawa menapak langkah
menembus malam
di mana kita berbahagia

Malang, 23 Mei 2003


Selasa, Mei 20, 2003

AKULAH GERIMIS

akulah gerimis yang menyapa
sisa cahaya pada senja

hingga memendar warna
pelangi di jernih matamu

yang menyimpan
cinta dan rindu

di kedalaman kabu
rahasiamu

Selasa, Mei 06, 2003

AKU MERINDUKANMU BELAHAN JIWA

aku merindukanmu. di mana engkau. ke mana engkau. aku merindukanmu. suara. rupa. aku merindukanmu. o engkau yang mengembunkan tangis. o engkau yang mencinta dengan setulus jiwa. aku merindukanmu. o engkau yang mendoa setulus cinta. o engkau belahan jiwa. ke mana engkau. di mana engkau. aku merindukanmu. mungkin engkaupun begitu merindu diriku, kekasih. seperti aku merindukanmu.

Mei, 2003

Sabtu, Mei 03, 2003

SEPERTI KEMARAU KAU RASA

seperti terasa kemarau, katamu. sedang embun-embun menggayut di gemawan. langit putih. hujan mencurahkan rindu cintanya. mencurah deras. membasah daun-daun. membasah tanah. mengalir air mengalir hingga sampai arah tuju.

tapi masih terasa kemarau, katamu. tak kutahu, mungkin demikian terik matahari. di dalam dadamu, kekasihku.

Mei, 2003



O MATA KANAK YANG BINAR

o mata kanak yang binar, ke mana cahayamu? tak ada tawa tergelak. mungkin dunia telah menyihirmu menjadi orang dewasa. yang kehilangan dunia mimpi. seperti peter pan dan alice yang diculik dari wonderland. dicampakkan di hiruk pikuk nyata dunia. dunia nyatamu. seperti juga adam dan hawa yang terlontar ke dunia. dari suka ria surga. dari derai tawa. o dunia menyihirmu menjadi orang yang kehilangan cahaya. peristiwa demi peristiwa memusar dalam benak kepala. memusing pusing di dalam diri. hingga tatapmu kosong hampa memandang udara. tak ada binar kutemu dalam mata. tak ada. ke mana pergi kanak yang riang berkata-kata? bertanya tanpa prasangka. o ke mana pergi kanak dengan binar mata? ke mana pergi. hingga muram hari. hingga remang diri. menerka gelap gundah di mata. kabut hitam. menyelaput di mata. menutup cahaya matahati. dirimu sendiri yang tak kunjung kau mengerti. menangislah atau tertawalah sesuka hati. karena dunia akan tetap begini. temui jalan untuk kembali. ke mula diri. dirimu sendiri.

Mei, 2003



MUNGKIN ENGKAU DEMIKIAN LETIH

mungkin engkau demikian letih. di puncak sepi mengamuk gelisah. di puncak sunyi mengamuk cemas. di puncak lengang mengamuk debar. di puncak khawatir mengamuk tangis. di puncak penat mengamuk amarah. di puncak gejolak mengamuk gelombang. rindumu.

mungkin engkau demikian letih menanti. karena rindu menggelisahkan diri. bertanya dan bertanya pada jam yang terus berdetik. mengurai usia. lalu bertumbuhan rasa bosan menunggu. waktu demikian lambat merayap. demikianlah engkau mencatat dengan airmata. kenangan demi kenangan. rasa khawatir akan kehilangan. walau tak ada yang melambaikan tangannya bagi sebuah perpisahan.

mungkin engkau demikian letih. memintal sepi pada dinihari. menatap bayang-bayang di lelangit kamar. mata ingin terpejam. tidurlah tidur jiwa yang selalu meronta. terlena diri dalam sekejap. tapi kecemasan menggoda. menghantu. menyelinap sebagai mimpi buruk. lorong-lorong gelap. hitam. wajah-wajah yang menyeringai. menyeret. mengikat erat. mencambuk. engkau berteriak. mencoba berteriak. tapi tak ada suara. mereka menyuntikkan racun ke dalam alir darah. engkaupun menyerah.

mungkin engkau demikian letih. pasrah menyerah. di saat itulah: mengawang diri. terbang. mengawang ke langit tinggi. tanpa sayap. mengawang. terbang. menembus selubung semesta. cahaya….

Mei, 2003

Kamis, April 17, 2003

RASA SERUPA ANGIN, CINTA SERUPA UDARA

adakalanya mungkin rasa kan bersinar begitu terang. tapi, adakalanya ia akan memburam. semuram lilin yang kan padam. kita tak bisa menolakkan itu karena itulah kemestian. itulah hukum alam. mungkin, kita kan melawan, menolakkan pinta hati. jangan! rasa serupa angin tak bisa dipaksakan. berbeda maknanya dengan cinta. dia serupa udara. ada sebagai hakikatnya. tak kan berhenti. meskipun, mungkin disakiti dengan beribu belati. tapi dia ada dan akan tetap ada. maka, mengapa berduka bila ada cinta?


PUISIKU

bagiku, puisi adalah dirimu. bukan yang terketuk dalam keyboard yang bisu. bukan huruf yang tercetak dalam layar komputer.

yang aku rindu adalah suaramu. adalah senyummu dan kebahagiaanmu yang sungguh. bukan gelisah.

tapi, apalah hidup tanpa gelisah. mungkin hanya kematian yang dijumpa. sebab hidup adalah kegelisahan-kegelisahan.

takutkah engkau menghadapi kemestian dan kepastian?



MENYULAM WAKTU

waktu bernafas meremas ingin berburu rindu pada padu yang sungguh merasuk di antara kepingan keheningan. seperti detaknya kudengar selalu. kau dengar?

demikian kehidupan berhamburan

telanjang



Jumat, April 11, 2003

KINI AKU DI SINI MENATAP HURUF YANG MEMBURAM



kini aku di sini menatap huruf yang memburam di layar kaca dengan ketukan yang semakin lemah pada keyboard yang aus ditekan sepanjang hari hingga huruf-huruf memburam di jemariku memburam di layar kaca memburam di mataku o kemana kan kusandarkan segala letih ini hingga hilang lelah dalam istirah dalam tidur tanpa mimpi buruk diburu-buru keinginan diri mengamuk-amuk selapar-lalapar singa mengamuk karena lapar hingga ngaumnya menggeletar mencari sasar dalam nanar membayang-bayang di kejauhan bergoyang-goyang o tak ingin diri demikian gamang melayang-layang terbang mengepak kepak tak henti hingga robek sayap hingga beburung jiwa terkapar di dedasar waktu di rahasia-rahasia rindu o huruf demikian memburam dan aku merindu rengkuhmu agar rebah diri dalam pelukmu

YANG KEHILANGAN KATA



demikianlah kata-kata menyelinap ke dalam gelap ke dalam rongga yang pengap lenyap ke dalam bising hari dalam gulat tak bertepi mimpi menjelma teror ke dalam diri sebagai guncang menggedor-gedor hingga kecemasan adalah gemetar menatap hari-hari sekarat menatap harap dalam gigil sendiri menatap langit luas penuh rahasia ditera rajah tangannya dalam kitab yang disimpan dalam selubung cahaya hingga lumat diri lumat sebagai kata yang lumat ke dalam gerus waktu o tanda siapa digurat pada keningku mungkin lindap suaramu mungkin sebagai rindu yang didawamkan sepanjang usia sebagai juga cintamu yang ditembangkan angin di dahan-dahan dinyanyikan beburung yang hinggap di pepohon o mengapa aku kehilangan kata-kata hingga tak ada puisi untukmu sebagai tanda rinduku juga cinta yang menyerumu mungkin sayup kau dengar mungkin sebagai derai sebagai derau demikian parau

http://nanangsuryadi.blogspot.com

BELAJAR MENULIS PUISI



huruf demi huruf berhamburan dari dalam benakku sebagai entah puisi mungkin merindu tapi apakah merindu adalah huruf-huruf yang berhamburan tak karuan sebagai galau yang tiba-tiba meledak dari dalam dada dan kepala sendiri meledakkan keinginan dari dalam mimpi-mimpi yang tak kunjung selesai diputar dalam tidur-tidur yang melelahkan ke dalam jeram-jeram nganga dalam keinginan sendiri hendak melompat melompat dari tebing-tebing yang tak kembali gema tak kembali menyahut suara o inikah suara dari dalam kegelapan jiwa yang menggapai-gapai ke terang-terang cahaya sebagai puisi yang kacau tak terbaca ada siapa di situ dirikukah atu engkau yang kukasihi dengan setulus cinta setulus doa dengan airmata yang memancar dari mataku yang tiba-tiba saja perih karena demikian nyeri segala yang tak terkata demikian pedih segala yang tak terduga demikian perih segala yang bergalau tak tahu apa dirasa apa dipinta o kabarkan padaku cintamu sebagai darah dalam puisi yang mengalir dalam aorta nadiku hingga mengucur hingga menderas ke dalam dadaku sebagai alir yang tak henti dalam tubuhku sebagai denyut dalam jantungku sebagai engkau yang tak henti mencintaiku dengan sesungguhnya cinta dengan setulusnya cinta dengan debar dalam dada sebagai doa yang kau panjatkan setulus pinta ke maha cinta hingga disatukan dalam gelombang cintanya yang cahaya!

http://nanangsuryadi.blogspot.com

Sabtu, April 05, 2003

MENANGKAP EMBUN

embun mengayun dari kelopak berserak membasah telapak. tak dia meresap dalam senyap yang ku bingkiskan dalam lamunan. mengintai jatuh dalam peluk retak bebatuan. demikian dingin

hingga ingin pula ku cumbui angin agar dapat aku menyerpih menjadi bagiannya. mungkinkah?



SIAPA KAMU?

sepertinya aku mengenalmu, sebenar-benar mengenal
hingga aku terduduk di sini mengamatimu
demikian dekat
(dalam waktu)
namun,
di saat lain sepertinya aku tak mengenalmu
demikian jauh
siapakah kau?



MELANGKAHLAH

hanya melangkahlah, jangan tanya mengapa
kau akan tahu jawabnya



BUKU DI SAMPING KANAN


jika ada buku di samping kananmu. bukalah
disitu telah tertoreh banyak cerita
banyak tawa
banyak tangis
tapi tidak dengan hari ini

sebab telah ku tulis di akhir halaman
akhir yang bahagia

kau tahu
hidup ini seperti lipatan-lipatan dalam buku itu
berakhir dalam satu bagian tak berarti berakhir untuk selanjutnya

akan tunggu bagian-bagian yang lain
yang akan menjadikanmu... aku... tahu makna hidup yang sejati

melangkahlah


Senin, Maret 31, 2003

DAN AKU MERINDU

dan aku merindu kekasihku
dalam jauh jarak dan waktu

dengan doanya yang utuh penuh
juga cintanya yang bercahaya
SEPERTI SAJAK YANG GIGIL SENDIRI

seperti sajak yang gigil sendirian dalam ragu adalah diri yang mencemaskan nasib rindu akankah tersimpan dalam ingatan itu sebagai tetugu batu dipahat waktu
AKU MENDOAKANMU


aku mendoakanmu, setulus pinta, agar kau tetap bahagia, dalam dekap cinta
aku mendoakanmu, setulus cinta, agar terang cahaya, di dalam dada
aku mendoakanmu, setulus airmata, pintaku kepadanya, semoga cinta kita
tetap terjaga



DEMIKIANLAH GODA

demikianlah kekasih, sepanjang jalan tak akan henti goda menghadang, coba
lenakan diri, hingga limbung diri, tak sampai pada tuju. tekadkan niatmu,
teguhkan hatimu, kita melangkah dengan berbekal doa dan cinta yang
bersemayam dalam dada



ITIKAD


langkahkan kaki
menuju satu

tujumu


EMBUN


embun
seperti airmata kita

di dinihari sunyi
merindu



SIAPAKAH AKU, KAU TAHU?

siapakah aku?
akupun bertanya selalu

apakah kau tahu siapa diriku?
katakan apa yang kau tahu

padaku

Senin, Maret 24, 2003

TAK TERKATA

:nanang suryadi

sepasang sayap merayap dalam hitam malam

membumbung ingin menyentuh bilik hati

sepotong rasa

tak terkata



KU TEMUKAN

Radikal bebas berhamburan memenuhi orbital keinginan

Lembar demi lembar tingkat energi telah terlampaui

Mencari sepadan

Terkelupas helai demi helai

Menelanjangi mimpi menelanjangi nyeri

Berbagi

Tinggal sebiji

Lebur

(ku temukan)



ISAK SEMALAM

:nanang suryadi


ingin menjemput bintang agar berdentang ia pada saat malam meredam letihmu letihku dalam isak semalam. Hingga terbangun aku terbangun kamu menyentuh angin menitip salam kerinduan keniscayaan. Hingga kan dikatakan kekanakan aku menangisi sesuatu tak perlu ditangisi.

Tapi,

Ia begitu nyeri menelusup di sekuyup bibirku mengeja kata:

aku tak mau kehilanganmu, cintaku



PUASA

:nanang suryadi


1.

ada yang menggeliat-geliat dihempas dedaun mencium aroma mimpi. Pertapa

Menyelinap sunyi diantara mantra tiba selaksa. Kepompong

Berdiam meredam segala ingin segala ambisi menjadi

Waktu membawa kabar membawa debar. Penantian

Akan sampai tuju

Menitik waktu berdetik. Tik tak tik tak

Memecah desah pada pasrah tengadah

(Tik.Lamban waktu lamban berhamburan.Tak.Sunyi waktu sunyi mencari tepi)

2.

Metamorfosis

3.

tersobek hijab hira tiba selaksa. Derita

berderit-derit sakit minta cahaya. Pintu

akan tiba akan muara. Hingga menitik ghirah:

kemenangan


ISTIKHARAH

1.

dini hari yang basah dihela embun bintik-bintik kaca keperakan

segores senyum mendarat di pelupuk. kenangan

2.

berabad melayat diantara puing bebatuan

berkejaran tanya berkejaran jawab. melucuti mimpi mengongkosi ambisi

berlari dan terus berlari

menanti. sunyi

3.

mendarat syahadat dalam bebasah rintih sajadah tengadah. aku berserah


MENUTUP AKSARA

sesayap imaji menelusup disela gemericik alir kali. mungkin kata tertanggal dari setubuh gelisah mencari jawab. tak genap terungkap ketika lenyap hijab meniada duka terbawa arus haus aksara
: bisu


MELEPASKANMU

melepas genggam tanganmu pergi bersama deru mesin terminal demikian hiruk memecah gundah tengadah pasrah pada keluasan angkasa biru merayap mendung tangis awan luruh mengaduh tanyaku tak terjawab.

menghempas inginku berlari mencari sejati mencari diri hilang terbungkam dalam nafasku cemburu pada waktu.

(tersisa jua disitu pesan terakhirmu)

Minggu, Maret 23, 2003

KARENA KITA MENYIMPAN MASA LALU

karena kita menyimpan masa lalu sebagai tertulis di buku waktu maka
terimalah diriku sepenuh diriku seperti kuterima engkau sepenuh
dirimu tak perlu dihapus segala kenang karena ia adalah milikmu
karena ia adalah milikku dan tertawa kita membaca segala masa lalu





Sketsa Rindu

aku merindukanmu
tapi engkau membisu

kutatap langit biru
kubayangkan dirimu di situ

menatapku selalu


tapi siapa yang akan mengeja isyarat

tapi siapa yang akan mengeja isyarat
dari matamu
seperti gerimis yang jatuh
mungkin cinta
atau rindu
yang kau simpan dalam-dalam
hingga pelupuk basah
hingga pipi basah
tak kusiapkan tisu untukmu
biar genang di situ, biar
kau rayakan kenang itu
sepenuh hatimu
karena ketulusan mencinta
melintasi segala senja
melintasi segala waktu
walau demikian fana
walau

Jumat, Maret 21, 2003

Kau Yang Berdiam Dalam Kesunyian

kau yang berdiam dalam kesunyian menyepi diri menyepi hingga sampai pada titik di mana kau serahkan diri dalam penyerahan sepenuhnya penyerahan melebur diri melebur dalam gerak semesta tunduk pasrah pada kehendak inginnya semata sebagai satu kau tuju sebagai satu dimula kau rindu sebagai satu dimula kau cinta sebagai satu kau kembali o alir airmata mengalirlah mengalir dalam senyap dalam tanya mengharap jawab agar sangsi tak lagi merintangi agar ragu tak lagi mengganggu agar tegar agar yakin diri melangkahkan kaki melangkah hingga sampai hingga pada

satu!

Depok, 7 Maret 2003


Kutelusuri Jejak Airmata

kutelusuri jejak airmata sebagai cintamu yang mengalir dari kedalaman jiwa o hening tatap dalam senyap merindu-rindu dirimu kutelusuri jejakmu dalam sunyi tak ada suara tak ada aksara dimana engkau apakabar engkau o yang menyimpan rahasia dalam dada dengan bibir terkatup dalam gemetar jemari menulis hari-hari gelisah tanyamu sendiri tentang segala yang menggoda cakrawala dalam benak angan ingin mimpimu o tanya yang diteriakkan dalam hati dengan nyeri hingga airmata mengalir mencari jawabnya dalam getar kalbu sepi sendiri menyapa kekasih diri

Depok, 7 Maret 2003


Sebagai Tanyamu

sebagai tanyamu pada cakrawala diam pada tebing-tebing waktu gaungnya menggema dalam dada sendiri membusur ingatan pada peristiwa yang menggoreskan perihnya ke dalam ingatan yang menyimpan kerinduan pada embun yang basuh dahaga hausmu o engkau yang menari di sunyi sendiri dalam tanya sendiri

Depok, 7 Maret 2003


Menelusur Bayang Wajahmu

menelusur bayang wajahmu o ingatan yang tak henti merindu menghitung detik demi detik waktu menunggu dan menunggu hingga saat bertemu dalam satu tuju pintamu dalam satu tuju tanyamu dalam satu tuju cintamu dalam satu jawabmu

Depok, 7 Maret 2003



SEBAB AKU PEREMPUAN

Untuk: Nanang Suryadi

1.

apakah aku tidak boleh takut engkau pergi tak kembali. apakah aku tak boleh marah apabila engkau terasa begitu jauh dari jejemari hari. apakah aku tidak boleh bersedih melepaskan kau pergi tanpa bisa berkata jangan. apakah aku hanya bisa bergumam mencari kejujuran sedangkan kau diam memandang aku yang selalu malu untuk sekedar mengakui: aku perempuan

2.

perempuan memendam rahasia sendiri dari bibir yang terkunci dari mata yang meredup dari tangan yang terkatup. yang mungkin tak kau mengerti karena engkau lelaki

3.

perempuan menyimpan tulang rusuk lelaki. ia adalah bagian dari keseluruhan sebagai engkau keseluruhan dari sebagian.tak kah kau pahami kadangkala ia akan retak dan meminta penggenapan. tak kah kau pahami?

NAFAS DZIKIR

bersetubuhlah bersama udara menerbang sesayap helai
nafasmu mendispersikan ribuan warna pelangi. surga

bernyanyilah bersama ribuan molekul bergumul rindu tak
henti-henti mencari sejati.hingga

di titik inilah kan kau serap produk ekstraksi dari
ribuan anomali ribuan basa-basi.hingga

teguklah sebiji inti sarinya bermesra cinta. purba

berdzikirlah setiap sudut sendi raga hati jiwa ruh
mendawamkan senandung kemahasempurnaan penciptaan.
keseimbangan-keseimbangan rahasia yang kan kau nikmati
dalam tiap seduh teh keingintahuanmu.hingga

bacalah ribuan kemahabesaran tak terkata tak terpeta.hingga
tak henti bibirmu mengeja kata:syukur



DIAM

sisakan sedetik saja waktu menatap hening daun diam. meredam gaduh yang mengaduh dari bilik-bilik kosong jiwa.
temuilah syairnya mengejewantah pasrah pada angin yang meniup ruh kebahagiaan.



HIDUP BUKANLAH PENDERITAAN

tuliskan harmoni keberadaan dan ketiadaan dalam simphoni hati. hingga dapat kau lukis pula disitu anggunnya dalam kanvas nafas cinta.

(diamlah sejenak)




Kamis, Februari 27, 2003

Di Saat Hujan

dedaun yang digugurkan angin berserak di halaman yang basah oleh hujan gerimis seharian tak henti menyapaku seperti juga kubaca gerimis dari matamu yang selalu menyimpan gemawan embun rindu tak henti mencurah dalam desau angin musimmusim di mana engkau menanti menanti dan menanti hingga saat disurat laksana janji laksana harapmu lunaskan segala angan mimpi yang ditulis dengan darah dalam hatimu dalam hatiku kekasihku

Depok, 26 Februari 2003

Karena Kita Manusia

karena kita manusia yang menyimpan riwayat mulamula sejak dihembus ruh ke dalam dada penyaksian yang diucap kepada yang satu kemana kita akan berpaling kemana kita akan menuju hanya wajahnya yang terbayang di pelupuk mata walau lamat walau dalam deru tak habis digerus waktu hibuk dunia yang memabukkan dengan goda tak akan lepas tatap mata ke dalam relung jiwa terdalam dalam dada sendiri yang rintih memohon kembali senyumnya hadir dalam harihari merindu waktuwaktu merindu cahayanya menerang terang jalan hidup kembali ke asal mula kejadian akhir segala akhir perjalananan bersama kita bersama sebagai manusia yang memahat duka bahagia kembali ke peluk cintanya

Depok, 26 Februari 2002


Sebagai Cintamu

sebagai cintamu yang kau ucap dengan gemetar di saat gemuruh dalam dada tak henti meneriakkan rasa takut kehilangan kecemasan akan jarak dan waktu yang memisahkan adalah aku yang merindukanmu dengan gemuruh yang sama memekikmekik adakah kau dengar adakah kau rasakan dalam jiwamu kekasihku sepenuh doa bahagia untukmu selalu cintaku

Depok, 26 Februari 2003

Rabu, Februari 26, 2003

Jangan Coba

karena api tak akan henti menjela jela membakar maka jangan coba kau
percikan api jika kau tak sanggup untuk menahan pedih rasa terbakar dalam
dirimu karena tak akan berhenti kobarnya dari dasar neraka amarah yang akan
menjadikanmu arang kemudian abu kemudian tiada maka segala akan menjadi
siasia tak bermakna tak berguna bagi hidupmu bagi kehidupan kelak bagi
harap bagi mimpi rindu cintamu
HINGGA (1)

sejernih air memercik di batu batu kali seperti percakapan kita yang mengalir demikianlah cintaku mengalirlah mengalir hidup kita mungkin selinang airmata kita derita bahagia berjalan menelusur jalan jalan gaduh sepi berjalan hingga sampai hingga

HINGGA (2)

kau tak akan pernah dapat menghalangi imajiku maka janganlah menangis begitu menderaikan kesangsian dan kecemasan yang datang berulang ke bilik bilik sepi dan rindumu seperti lelampu yang ditiup angin di malam malam engkau mengingat perbicangan kita dengan debar yang menyelinap lewat mata dan bisik yang kau kenal demikian dekat seperti puisi yang kau baca demikian lamat dan huruf yang mengusung diriku sendiri ke dalam mimpi dan ingatanmu hingga sampai pesanku agar kau tak lagi bersedih dan khawatir seperti kau tulis di lembarlembar hariharimu o cintaku biar kutelusur riwayat manusia hingga seperti akar menelusur ke kedalaman tanah hingga seperti pepucuk daun yang menerima rahasia angin hingga suatu ketika kukabarkan kepadamu dongeng tentang segala rahasia yang membuka jawabnya

HINGGA (3)

kau adalah kanak kanak yang selalu bertanya tentang segala hingga kutergagap menjawabnya karena aku pun juga menanyakan hal yang sama dengan yang engkau tanyakan mengapa dan mengapa tapi tak ada jawaban yang membuatku puas dan berhenti bertanya seperti engkau yang tak henti bertanya dengan segenap pikiranmu bertanya bertanya dan bertanya hingga akupun tergagap tak mampu menjawabnya

HINGGA (4)

bening air gunung gemericik ke batu batu kali o sayang mimpi lelaki dimana kau simpan di dadamu atau matamu yang menerawang jauh menatap cahaya matahari mengerjap-ngerjap di sela dedaun seperti kerjap ingatan tentang mimpi-mimpi kita yang dirangkai dalam katakata cinta dan rindu mengerjapngerjap cahaya di bening air di sela sela dedaun di matamu cintaku



Kamis, Februari 13, 2003

SKETSA RASA

sesunyi malam sesunyi harap impian berkelindan dari masa ke masa menjemput engkau yang jauh dengan gemerisik rintih di dada sendiri.aku mencintai kau dan kau mencintai aku.berlarian dari waktu ke waktu memburu jasad kita yang jauh jiwa kita yang rapuh oleh tanya-tanya tak terjawab selain kembali pada tanya serupa.aku memcintai kau dan kau mencintai aku. seperti ada yang dilepaskan dari jasadku sebuah pengakuan keinginan bersatu di suatu waktu. akankah sampai akankah sampai pintu terketuk.akankah muara akankah muara cinta dirasa.aku mencintai kau dan kau mencintai aku. sungguh tangisku rapuh dalam suluh yang kau tiupkan di dadaku.

Kamis, Februari 06, 2003

Melukis Malam
: NS

malam demikian senyap mengendap dalam titian lamunan
memburu waktu demi waktu yang bergantian berputaran.
Ketika,

jemari itu mengulur mengayun mendarat tepat di dadaku.
Engkau kah yang datang dalam malam simpan kelam.
Endapkan senyap merayap
Pergi. Ketika,

Jemari itu menuntun aku menelusur peristiwa
melayangkan nyawa dari rotasinya. Menjemput bintang
yang berdentang dengan senyumnya mencairkanku dalam
rona pipinya. Ketika,

Pertanyaan-pertanyaan mengalir begitu sederhana di
sela derai tawa. Mengeja jeda demi jeda tanpa

Engkaukah yang datang dalam sehalaman masa lalu
berpijaran. Patahkan kaki-kaki yang letih menghunjam
bumi. Ketika,

Tak ada lagi cerita, tanpa
Melukis malam
Tanpa
?

Kaulah Kekasihku
Buat: Kunthi Hastorini

kaulah kekasihku yang kucinta dalam jarak dan waktu yang melulu rindu hadirlah engkau hadirlah jiwaku bersatu dengan jiwamu bersatu jiwa dalam ridha yang maha satu sebagai cahaya yang menyatu dalam lautan cahaya senyumnya sebagai adam dan hawa yang saling mencari belahan jiwanya kaulah kekasihku akulah kekasihmu yang saling merindu dalam jarak dan waktu yang goda diri kita dengan sepi atau keriuhan dada sendiri yang menjelma cemburu dan airmata yang dialirkan menelusuri peta perjalanan o engkau aku mencintaimu seperti kau cintaiku diriku seperti kucintai diriku sendiri kan sampai pada dekap kan sampai pada masa di mana engkau aku menyatu satu dalam lautan cahaya cintanya cahaya senyumnya seperti ditatah dalam gurat rahasia di langit yang jauh kan ditemu jawab kehendak jadi maka jadilah segala pinta segala harap segala ujar dalam kehendaknya semata suatu ketika pada saatnya


Depok, 5 Februari 2003

Selasa, Januari 21, 2003

Pada Waktu

pada waktu, bertumpuk berkas kenangan
ajari aku membaca

silam yang riuh
atau keheningan yang ditemukan

dalam bening tatap mata
sebagai rindu, yang kubisikkan pada dinihari

kepadamu


Depok, 20 Januari 2003
Tengoklah di Langit Purnama Bulan

tengoklah di langit
demikian purnama bulan

cahayanya yang keemasan
memendar dalam mimpiku

penuh rindu

seperti puisi yang kutulis untukmu
cintaku


Depok, 19 Januari 2003

Minggu, Januari 19, 2003

MENGINGATMU

Dalam peluk tengger bebasah rimis mengais-ngais huruf demi huruf dalam selembar kertas pucat. Mencoba menemu asalnya berada. Seperti di masukinya lubang-lubang erosi bebatuan. Menjadikannya hilang kasat.
Telah tercatat
namamu
LAFADZ MALAM

selembar kertas kuterima malam itu. dengan sayap-sayapnya yang kuning jagakan aku dari lamunku. kuhempas kekosongan.

kubaca tiap guratan pena waktu meluncur dari matanya.

apa kabar sayang?demikian ia bertanya. seusap peluh menetes dari ujung tawaku. kiranya bahagia menjelma jadi ratusan tinta yang mulai ku tuliskan dalam bait-bait sendu

kukabarkan, aku baik-baik saja. menjaring udara selepas gulita
SEPOTONG GAMANG
: Nanang Suryadi

tak ku jumpai bintang jatuh malam ini.
kiranya airmata senja telah merampasnya sisakan sepotong bulan gamang.
tak perlu di tanya sebab kita tahu mengapa.


Senin, Januari 13, 2003

Sebagai Kenang

Sebagai kenang
Kerinduan membayang

Menjenguk

Binar cahaya di matamu
Menjelma jadi puisi

Di kala sendiri

Merindui kekasih hati
Merambati mimpi

Malam kembali

Depok, 10 Januari 2003

Jumat, Januari 10, 2003

KENANG

menggenang kenang mengejang menghilang mengapi menjadi diri.serupa alif berdiri menjadi ba merangkak menjadi tak berontak menjadi tsa telungkup menjadi:

kau!

Senin, Januari 06, 2003

DAN KITA MEMBACA ALIFBATA KEHIDUPAN

dan kita membaca alifbata kehidupan, sebagai ayat yang terbuka untuk
ditafsirkan. terbata kita mengeja huruf demi huruf akankah khatam di tepi
usia. di ujung waktu.

dan kita membaca alifbata, sebagai ayat yang diturunkan dari lauh mahfudh,
dengan debar di dada, mengeja huruf demi huruf, sebagai peta, menuju rumah
yang telah ditinggalkan lama, menuju senyum-Nya yang dirindu

dan kita membaca alifbata, dari mata kanak-kanak kita, yang menderaskan
dengan bening jiwa

SKETSA ESOK

lelambaian yang menguning di sela-sela pusaran waktu.mengenangmu dengan tiktak tuts keyboardku.menculik serangkaian imaji esok menjemput. ku lihat adalah engkau yang berdiri di serambi. memintal rangkai inginmu pada sebuah misteri. ada aku yang masih mengeja alifbata kehidupan. di sela trauma? tanyamu. tak anggukan atau gelengan puaskan sahutku. hanya, ajari aku untuk lebih mengerti apa kiranya yang tercatat di sebalik alifbata kehidupan. selepas jemarimu mengaduh memecah sunyi tanyaku

Sabtu, Januari 04, 2003

Catatan di Penghujung Tahun

di penghujung tahun ini. padamu

aku ingin ucapkan: selamat menemui diri!

dan, aku akan tuliskan mungkin untuk penghujung masa ini. aku hanya ingin kembali pada diri. memasuki lorong-lorong yang belum sempat ku selami. bahkan juga dirimu!

mencoba menata lagi pilah-pilah hati yang mungkin seperti puzzle yang tak karuan.

di penghujung musim. jangan lagi luncurkan kata-kata yang tak bisa aku pahami. karena aku terlalu awam untuk itu.

mungkin, rindu pun tak ku tahu seperti anak kecil yang membuat aku semakin tak tahu pada diriku. mungkin, mimpi pun kembali tenggelamkan diriku dalam pertanyaan-pertanyaan tak berujung jawaban. kembali pada pertanyaan serupa, selalu.

dan,

untuk terakhir ku titipkan tanya (pun jika kau ijinkan): kemana aku (sesungguhnya) akan kau bawa?

selamat menemui diri!

31 Desember 2002

Kamis, Januari 02, 2003

Lima Sajak Untuk Rini

1.

apa yang dihitung dari waktu. kan menutup tahun berdetik lagi. tapi waktu, sayangku, melaju deru bersama rindu.

2.
gerimis jatuh pada dinihari, adalah waktu yang meluruh, ke dalam mimpimu. sebagai rinduku, menelusup ke relung jiwamu, kekasihku.

3.
aku berdiam di titik nol. akulah kenangan, kenyataan dan impian. berbaur dalam duka bahagia tangis dan tawa. mula akhir kata. gaduh sunyi. diri sendiri!

4.
aku gemetar dalam tanyamu: ke mana kita akan pergi. aku terdiam dalam gigil sendiri. memeta arah lewat gulir airmata. engkau aku menengadah menatap langit: keluasan semata. rahasia!

5.
aku demikian mencintaimu. kau tahu itu. sebagaimana hidup matiku kuserahkan takdir cintaku pada kehendak-Nya. Dalam cinta-Nya semata. karena bermula kita dari dan akan kembali pada: Kasih Sayang-Nya.

Serang-Cilegon-Depok, 31 Desember 2002 – 2 Januari 2003