Selasa, Desember 31, 2002

Siapa Gerangan



Selarik sajak mengalir jatuh ke bumi
Kuterima pagi tadi

Apakah langit sedang berilusi?

Ketika, ratusan tinta entah berapa
Merajuk malu-malu

Siapakah gerangan dia. Cinta?

Kunthi Hastorini

Tafakur Lelaki



lelaki, tak peduli
bertafakur di dingin masa nan sepi

berkisah dan pasti
gemuruh suara hati, tak henti

ratusan puisi baur dengan udara
telah terkata
..…..

Kunthi Hastorini

Lelaki Berpuisi



Lelaki berpuisi, ketika awan begitu hitam membayangi sepi
Dari jauh aku mengintai ia

Satu satu air mata langit jatuh kebumi, lelaki terus berpuisi
Berpuisi merajuk mata hati
Ingin berlari, sembunyi
Tak kuasa

Inikah cinta? bibir pun tak lagi berkata
Karena berdiam di sisinya, telah terkata:

Cinta

Adakah Kau Rasa



Adakah kau rasa derak langkah Nya
Di antara keheningan masa tak berjeda
Adakah kau dengar Senandung nina bobo Nya
Istirahkan lelahnya jiwa

Adakah, adakah Kakanda?

Kau nyanyikan kidung seirama kidung Nya
Bergulat dengan cahaya Nya, bermesra surga
Adakah pelaminan hening memapahmu tuk kembali
meniti puisi diri, sendiri menanti

Kunthi Hastorini

Jika Cinta Hadir

jika cinta hadir bagi hati, biarlah dia mengalir seperti air
tak usah lagi siksa itu mendera. tak usah!

tak ada sakit, demi kau yang pantas bahagia!
seperti doa pintaku padaNya

Kunthi Hastorini

Kuingin Katakan



kuingin katakan, aku begitu takut merengkuhmu dalam hari-hariku. seperti kulihat hijab itu begitu tebal. tak bisa kusibak seperti bibirku yang bisu. seperti hatiku yang beku

tapi, percayalah , aku selalu mengingatmu dalam tiap detik hariku. merindukanmu. mengenangmu.

meski, aku pun tahu, aku takut pula melakukan itu. ada yang kutakut marah dan cemburu karena nya aku begitu takut. dalam gigil ruh ku takut ditinggalkan Nya. seperti selalu aku mengkhianati Dia

akhirnya, hanya satu pinta dari palung hatiku. berbahagialah dengan cinta. tak ada sakit disana. semestinya. kuingin katakan, aku menyayangimu. berharap yang terbaik selalu bagi dirimu.

insyaAllah, Allah menjagamu


Kunthi Hastorini

Bagaimana Dapat Kau Rasa



bagaimana dapat kau rasa
sedang jeda waktu lamban berputar
berputar

seperti pikiran gemetar
bergantian

aku sayang. hanya itu yang dapat aku katakan.

…………..

demi masa, demi cerita
datang pergi, begitu saja

dalam gelak tawa, dalam tangis lara
terselip doa

bunda

cinta, kau rasa

Rahasia Danau



Danau,

meski tenang
tak

meski dalam,
tak

meski diam,
tak

manusia melintas,
manusia bercermin,
manusia tenggelam,

tak.tak.tak

Kunthi Hastorini

Di Ujung Setia



di ujung setiaku yang sunyi. menandai udara dengan derai mimpi berlari.
menanti dalam untai hari menit jam detik. sampai pada letih merintih.
usik usir aku di sudut waktu yang bisu.


Dari Kerling Hening



dari kerling matanya bening, luruh bulir-bulir hening.
meresah terik udara memekik, ziarah sang cahaya doa.
setipis bibir merekahlah!

Kutulis



kutulis dengan embun basah
pada desah rumput dedaunan

hingga tak udara meresah
-sebuah kata yang telah lama lelah: Cinta

Yang Bercanda Di Sela Hari



Cahaya yang bercanda di sela hari
adalah tawa yang bersenda di matamu

bahagia

Menemu Negeri Cahaya



Dan kulayarkan lagi mimpiku dalam gelombang badai mencari negeri
Negeri di mana pohonan beranting cahaya berbuah cahaya

Telah lama kulayarkan mimpiku dalam gelombang badai mencari negeri
Angin menderu perahu terpelanting berulang kali tenggelam aku berkali-kali

Sampai kutemu negeri
Di matamu yang cahaya

Jangan lagi kau masuki negeri tak pasti, katamu
Menderaskan airmata, menderas, hingga

O, berlinangan cahaya

Aku Merindu

Aku Merindu (1)

aku merindu, sungguh aku merindu, sapa suaramu cintaku. seperti ada yang merembes dari pelupuk mata. menatap layar yang kosong, mailbox yang kosong, tak ada kabar darimu.demikian merindu aku, sungguh, demikian merindu. hari-hari menjadi serasa hampa. karena tak ada sapa. duh, apa kabar dirimu, cintaku. semoga kau baik-baik saja.

jika saja rentang ini dapat kulipat, ah, jika saja jarak ini tak ada lagi, aku akan selalu bersamamu, di dekatmu. aku merindu, sungguh aku merindu, kau pun tahu, cintaku...

Kampus UI, 11 Juli 2002

Aku Merindu (2)

rindu menggoda bayang melintas detik meluncur dalam wacana rindu jam mengaduh mencemaskan kalimat cinta baris-baris duka dalam bait sepi hari gelisah bulan cemas tahun menanti windu menggoda sedalam harap mimpi

sedebur gelombang mendebur debur di waktu waktu tak lalu setatap tatap matamu penuh tanda tanya mungkin ragu mungkin gundah seresah kata yang berjatuhan dari puisi


Aku Merindu (3)

dari cemas dan harap juga rindu aku menyebutnya perempuan ditunggu pada jam jam meletihkan secambuk api secambuk mimpi menggelat geletar dalam angan hari minggu bulan tahun windu membaurkan rindu cinta harap serta cemas dalam kata berdesakan dalam kalimat tak usai menterjemah degupan di dada sendiri deburan di gelombang jantung sendiri memasuki detik detik menanti


Aku Merindu (4)

di sela-sela puisi,
jeda terasa,

sebuah sunyi,

o bayangan yang menelusup ke dalam relung,
sebagai denting sampai di sini,

di semilir angin, dihembus rindu

kabarkan padaku, kabarkan padaku
lewat hembus nafasmu, menyatu di udara

kuhirup sepenuh dada

Aku Merindu (5)
Untuk: Kunti Hastorini

Karena aku merindu, kugantung potretmu di dinding dadaku
Udara panas di luar demikian bengis menatapku penuh curiga

Namun kujaga senyum embunmu dalam ingatan, agar tak terjamah
Tak kan kubiarkan sejuknya menguap dari dalam jantung hatiku

Hingga tak kupeduli hiruk pikuk gaduh bising kemarahan, karena
Ingatanku menjelma jadi alir sungai demikian jernih mengalir

Hari-hari terasa nyaman dengan doa dan cintamu, setulus hati
Amboi, inilah mimpi yang menjelma, harap yang menjadi

Seperti yang kutulis dalam puisi di suatu hari
Ternyata di waktu kini

O, kulewati hari-hari menelusuri riwayat alir, hingga
Rindu cintaku menyampai takdir

Inilah pejalan yang menyimpan beribu luka di dada, sekian waktu
Nantikan sampai pada titik menyatu satu padu

Inilah sajakku, karena aku merindu dirimu


Depok, 27 Agustus 2002


Aku Merindu (9)


Garis wajah yang lekat dalam ingatan. Engkau dengan senyum mawar. Rembulan membagikan cahayanya. Di langit yang bentang seluas harap. Purnama sempurna.

Aku demikian sentimentil. Menulis sajak dengan airmata. Dinihari yang merindu.

Adakah deru cemburu di angin lalu. Tertiup ke segala penjuru: inilah cintaku. Mimpi anganku. Menyeru dirimu. Menyeru dirimu.

Aku demikian sentimentil. Menulis puisi di senyap begini. Dinihari yang gemetar.

Adakah gigilku sendiri. Membaca peta nasib sendiri. Mengeja tanda dari matamu. Cuaca yang mungkin berganti setiap detik. Tak kutahu.

Aku demikian sentimentil. Menulis syair. Dinihari yang cemas.

Mengingatmu. Setulus doa. Dilafalkan: semoga kau baik-baik saja. Cintaku. Aku demikian merindu. Dirimu.

Depok, 25 September 2002



Aku Merindu (10)

Ada yang dicemaskan pada debar. Tak sampai kabar. Tak aksara. Tak suara. Ingatan mengejang. Menelusur bayang-bayang.

Di mana engkau. Apakabar engkau.

Menelusup sepi ke dada sendiri. Jam-jam yang khawatir. Berdetik membisik lirih: inilah rinduku kekasih. Demikian perih.

Di mana engkau. Apakabar engkau

Aku demikian mengkhawatirkanmu. Cintaku.

Depok, 25 September 2002

Pada Keping Yang Sama



Hidup, mencari artinya sendiri,
memberi makna kepada kehidupan

O, orang yang merindu,
pernahkah kau rasakan cinta sebagai kepedihan

Demikianlah seorang pecinta
sampai pada puncak perihnya

Sebagai nyala dalam dada
menjela-jela

O, orang yang merindu,
lihatlah: pedih dan bahagia

di keping yang sama

Menapak Jejak di Jalan Setapak



Di jalan setapak seorang yang merindu menapak jejak
Melangkahlah ia melangkah mencari Kekasih

“Inikah setapak jalan menuju Engkau?”

Sepanjang jalan pepohonan berkesiur ditiup angin, melambai-lambai
Serangga berdenging bersahutan, burung-burung bernyanyi riang

“Aku tuju Engkau, ya Kekasih. Sambutlah aku dengan senyummu!”

Pohonan terdengar menzikirkan nama Kekasih
Serangga bersahutan mengamini, burung-burung mendawamkan Rindu

“O Cinta, kan sampai aku di hadapmu!”

Jalan setapak licin menanjak menurun mencuram tajam
Membelah lembah-lembah membelah gunung-gunung

“O, kan sampai aku padamu?”

Wajah sang perindu demikian cahaya
Menapak jejak di jalan setapak

Mencari Kekasih yang selalu dirindu. Tak henti

Depok, 31 Mei 2002

Sangsi, Jangan Jadi Duri, Halangi Langkah Kaki


aku akan terus berjalan,

biar curam, biar jeram, biar tajam, biar..
langkahku pasti,

hingga sampai pada tepi
di mana kau, cintaku menanti

Sebagai Hujan



Airmatamu adalah hujan
Lunaskan dahaga kemarau

Kanak-kanak berlarian berteriak riang
Telanjang dada telanjang kaki demikian senang

Airmatamu adalah hujan
Lunaskan haus terik risau

Kanak-kanak bermandi airmata
Menari-nari demikian bahagia

Menemu cintamu

Kau Tahu, Cintaku



kau tahu, ada yang mendoakanmu,
semoga kau baik-baik saja

kau tahu, ada yang mencintaimu,
semoga kau baik-baik saja

kau tahu, ada yang merindukanmu,
semoga kau baik-baik saja

kau tahu, ada yang menyayangimu,
semoga kau baik-baik saja

kau tahu, ada yang mengkhawatirkanmu,
semoga kau baik-baik saja

kau tahu, kau tahu,
seperti terasa di hatimu

ada aku menatap potret wajahmu


Sebagai Embun



tak ada hujan menitik hari ini, di juni yang kering
tapi kurasa bening embun, dari sudut matamu, menetes

rasakan keheningan, dalam diam suara, o, yang merindu
setitik bening, setitik bening, sebagai embun, di pipimu

mengalir, menelusup ke relung jiwa

Bahagia Diri



Demikian bahagia diri
Mencintai setulus hati

Demikian bahagia diri
Dicintai setulus hati

Berjalan kita meniti
Menuju pemilik cinta sejati

Adalah Cinta



"Cinta adalah hidup, hidup adalah cinta," katamu.
Matamu demikian binar

Kembang api melesat
Menerang di tengah malam

Adalah Cinta
Adalah Cinta



Tak Lagi



langkahku tak lagi ragu, katamu, dengan binar mata. di sore yang menyimpan catatan perjalanan airmata.

kutahu, kutahu lebih dari yang kau tahu, katamu. seperti lagu, kuputar selalu. mungkin rindu.

langkahku tak lagi ragu, kataku. menelusur sepanjang jalan, ruang waktu, bersamamu, di sisiku.

menemu Yang Dirindu

Teruslah Melangkah Kekasih



Teruslah melangkah kekasih. Kan kita cari bersama Cinta dalam senyum-Nya.
Jangan lagi ragu. Jangan. Karena tak tahan ini diri, tanpa teman dalam perjalanan.

Tetaplah bersamaku mencari: Pemilik Cinta Sejati.

Jika kulelah melangkah. Beri aku semangat. Bila aku kehilangan arah.
Tunjukanlah. Ke mana kita akan terus melangkah.

Dinyalakan-Nya



Tak ada mengapa bagi cinta. Diterbitkan dalam dada kita,
kehendak-Nya semata, dinyalakan-Nya dalam hati kita, sebagai cinta.

Demikianlah Ia mencintai kita. Dinyalakan api cinta.
Demikian lambat atau demikian cepat. Kehendak-Nya-lah.

Kehendak-Nya. Semata

LENGKUNG MIMPI



Dan kanak-kanak bergelayut di alismu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Beterjunan ke jernih matamu. Telaga rinduku.

O kanak-kanak yang riang. Meluncur dengan derai tawa.

Dan kanak-kanak menemu senyummu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Meluncur di bibirmu.

O kanak-kanak yang riang. Menemu cintamu!

Ziarah Kenangan (2)


jalan-jalan yang menyimpan cerita, dingin kota
o, berdesakan bayang, berduyun mengunjungi benakku
dengarlah kekasih, kudongengkan kenangan

dan engkau tersenyum di hadapku,
menemu tatap mata
menelusur ruang dan waktu

Malang, 6 Agustus 2002

Bagaimana Dapat Kugambarkan Bahagia


bagaimana dapat kugambarkan bahagia
seperti kutemu di tiap detik waktu bersamamu

bagaimana dapat kugambarkan bahagia dalam puisi,
sedang kata tak dapat menyampaikan

demikian bahagia diriku
di dekatmu selalu

malang, 12 agustus 2002

Matamu Adalah Cahaya Purnama Bulan



matamu adalah cahaya purnama bulan, kataku. tapi engkau tertawa
mendengarnya. akupun tertawa. entah mengapa.

kitalah penyair yang menulis sajak sepanjang jalan. dengan derai
tawa. mencandai waktu, mencandai diri kita sendiri.

hingga suatu ketika ada tanya: masih perlukah metafora untuk senyum
dan tatap matamu. juga cinta.

Malang, Agustus 2002

Kutemu Senyummu


sebagai butiran embun, senyummu, lunaskan dahagaku
pejalan yang demikian lelah telusuri mimpi

kutemu senyummu, kutemu
lunaskan rinduku

Malang, 6 Agustus 2002
Lelah

aku demikian lelah
ingin istirah

(senyum dan doamu
menyelinap dalam dadaku)



Senja di Alun-Alun Kota

ada yang berpendar pada air yang memancur,
cahaya matahari senja,

lampu jalan, lampu taman, mulai dinyalakan

apa yang kita bicarakan di situ,
pada desir angin dingin

kanak-kanak yang meniup gelembung sabun

lihat tawanya, menyeringaikan gigi yang baru tumbuh,
ah, seperti juga kanak yang kutatap di matamu

terkekeh demikian riang,

senja merapat, gelap melindap cahaya
gema azan menelusup ke dalam dada kita

di sebuah senja

Malang, Agustus 2002
Doa Dalam Dada Kekasih

doa dalam dada kekasih
detaknya mengetuk-ngetuk langit

cahaya melintasi jarak waktu

harap menjelma jadi
penuhi janji kehendak

dengarlah detak dalam dadaku:

kehidupan yang akan terus kau dengar
serukan cinta dan rindu berulangkali

dari sunyi diri sendiri

sesungai senyap dibingkiskan kepadamu
sebagai ketulusan memberi

begitu juga ketulusan menerima

mengalir riwayat manusia
ke muara akhirnya

ke mula asalnya

Depok, 11 September 2002
APAKABAR SAYANG? AKU DEMIKIAN LETIH

Apakabar sayang? Aku sendiri, menelusuri sunyi. Sebentang jalan, kutapaki.
Remang cahaya. Denging suara serangga. Aku demikian letih.

Depok, 2002

FAJAR TUMBUH DI TIMUR LANGIT

Fajar tumbuh di timur langit, merayapkan cahaya, mungkin harap
Membuka hari penuh gairah semangat, hadapi hidup dengan berani!


Depok, 2002
SEBAGAI KEYAKINAN DALAM DADA

Sebagai keyakinan yang berdiam dalam dada, tataplah mataku, akan kau temukan jawabnya. Tak akan sia-sia cintamu yang tulus. Mengembuni dada resah. Mengembuni jiwaku yang lelah.

Engkaulah cintaku, berdetik dalam detak nafasku.

Depok, 2002


Karena Cinta

Lalu kau ceritakan tentang derita. Menyetubuhi hidup. Lewat dusta dan petaka.

Tapi itu bukan cinta, sayang. Karena cinta adalah dirimu, diri kita, serta mereka yang mengada. Menghadir sejak dulu kala. Sejak dihembus ke dalam dada.

Cinta mencahaya. Mengingatkan wajah mula-mula: Cahaya maha cahaya. Dan kita merindukannya.

Cahaya demi cahaya melesat. Mengalir dalam waktu. Memuara ke lautan cahaya.

O, cinta maha cinta, mula dan akhir kata!

Depok, 2002
Demikianlah, Cintamu

Demikianlah, cintamu adalah doa yang diucapkan setulus hati. Sebening embun dinihari. Menjelmalah beburung jiwa, sebagai cahaya. Lesatnya sampai ke hariba Kekasih diri. Pada Cinta dan senyum-Nya yang abadi.

Depok, 30 Deseember 2002
DI SEBUAH KEDAI COKLAT

Harum rempah-rempah. Dalam secangkir coklat. Hangatnya mengusir dingin. Udara sehabis hujan seharian.
Dalam gigilku sendirian. Mengingat wajahmu. Mengingat derai tawa manjamu. Dalam remang cahaya. Aku mulai menulis: coklat….

Secangkir coklat hangat. Di kala aku merindukan dirimu. Tatap dan senyummu membayang. Di pelupuk mata berduyun kenangan. Diputar demikian manis. Demikian hangat. Menelusur ke dalam dadaku.

Depok, 2002
Tak Ada Yang Hilang, Sayang

tak ada yang hilang, sayang
hanya ruang dan waktu

tak ada yang hilang, sayang
karena berdiam aku di hatimu

Depok, Agustus 2002