Senin, Desember 30, 2002

Seperti Ada Yang Hilang



seperti ada yang hilang dalam ruang
berbaris kenang

bersama tak tik tak waktu terus berputar
liar

bersama kenang membayang, sayang



Menatap Senja



menatap senja, demikian jingga. seperti kubisikkan di telingamu tentang sebuah cerita di suatu ketika. seorang pecinta mencari cinta, pada sebuah peta. tak ditemu jua, demikian letih berjelaga, demikian sakit berderit- derit. tak ditemu.

gelisah meresah, melungkrah darah lelah. tatkala cemburu memburu beradu. tak ditemu.

seperti kubisikkan di dadamu. seorang pecinta menyerah pasrah. sebulir bening memapah gerah. pada suatu senja, pada sebuah dekap, pada sebuah senyap. pada.

hingga, seusap tangan menyapa. papah resah dari bilik mata. demikian cinta tiba selaksa. tanpa kata. tanpa.

di ujung senja, di sebalik tabir terbuka cahaya cinta. duhai! kiranya telah ditemu rindu. cahaya di atas cahaya. demi Allah yang merindu! demi Allah! demi.

menatap senja, demikian jingga. seperti lambai tertuju bagimu.



SEPERTI KULIHAT CINTA DI MATANYA

seperti kulihat cinta di matanya berkata.kata siapa cinta tak ada. dia ada dalam tiada. tiada dalam ada. sebab ia ada dan tiada itu sendiri. bagaimana kita memaknainya.

seperti kulihat binar di matanya bicara. kata siapa cinta itu dusta. sebagaimana perjumpaan ruh di pelaminan jiwa. saling mengenal dan berbincang. mesra.

kau aku dia semua adalah cinta. kau aku dia semua adalah dusta. bagaimana kita memaknainya.

cinta!



DUHAI PECINTA ISTIRAHLAH!

tak bersuara ia di satu masa. dingin seolah tak
bernyawa. telah laknat segala peristiwa. juga luka. demikian tangis tersia tak bersambut tawa.

bersenda maya ia di suatu ketika. selalu dan selalu. seakan tak jera. sebagai sihir dunia selalu menggelitik gemerisik. demikian tipu melulu merayu.

duhai pecinta. istirahlah! tak guna dicari cinta
didunia yang telah tiada nyawa. nyawa-nyawa itu telah terusir disatu ketika. pada tangis khianat. pada rimismeranggas kering kerontang. kosong!

duhai pecinta. berhentilah! tak guna diharap cerita di dunia yang telah berdusta. dusta-dusta itu telah merasuk dalam bangkai-bangkai penuh ulat. pada jasad yang hina. pada kepentingan-kepentingan membuta aksara cinta.

dan, bermuara segala pusar rindumu menemu yang satu.

satu!


HURUF-HURUF YANG BERGEMBIRA

huruf-huruf yang bertebaran mengangkasa, demikian bergembira, tak airmata siratkan duka, biarlah bergumul berpadu bersatu membentuk segaris senyum, di suatu senja

DALAM RIMISNYA, AKU KAN DATANG SELALU BAGIMU

dalam rimisnya. aku kan datang selalu bagimu. dalam sepenggal doa. dalam sepenggal cerita. yang mungkin tak sempat kau dengar dengan telingamu yang rahasia. tapi, tak kah kau tahu? hujan sore ini. kemaren. esok. masihlah sama. menangis dan menangis. tapi, jangan dengan pelupukmu. tersenyumlah seperti matahari tak henti bercahaya mesra.

dalam rimisnya, tetaplah tatap mata hati ini. bernyanyi dan selalu. dalam sepenggal harap. dalam sepenggal dekap. yang mungkin tak kau pahami dengan bibirmu yang rahasia. tapi, tak kah kau tahu? hujan sore ini. kemaren. esok. masihlah sama. menangis dan menangis. tapi, jangan dengan pelupukmu. tertawalah seperti derai angin tak henti berhembus tuk kau hirup kau hembuskan dengan penuh cinta.


ADALAH JIWA YANG KEMBAR

adalah jiwa yang kembar. dihembuskan di sebalik dada manusia. berabad lalu, lalu berpisah.

adalah kesendirian. kesepian. membulir luka di antaranya. seperti kecewa. seperti lelah. atau kalah.

mencari dan mencari tak henti. sebab kegelisahan meraja. kepedihan menyiksa. jiwa merindu kembarannya.

mencari dan mencari. tak ditemu. tak. sampai Dia mengedipkan sebelah mata. dan berbisik, dialah jiwa kembar yang kau cari, yang kau rindu.

adalah jiwa yang kembar. bertemu bersatu berpadu. dalam cinta yang diselipkanNya disatu waktu rahasia. tak ada yang tahu. selain mereka yang merindu.
KAU

desah desau desir angin. kepak sayapku memujimu. luruh satu-satu helai bulu takutku menujumu. mata yang teduh dimana ingin istirah letihku.

terbangkan segala peristiwa melampauiku.

kau!



APAKAH AKU MENCINTAIMU

apakah aku mencintaimu, tanyamu. seperti ada yang diterbangkan dari kepalaku. tanda tanya yang menari-nari di dadaku.

coba beringsut aku dari puncak gelisah. menemu dirimu yang satu. mencari jawab, apakah aku mencintamu?

apakah aku mencintaimu, tanyaku. seperti ada yang pecah di kepalaku. deret peristiwa telah melampauiku. tak kutemu jawab di ambang pencarianku.

sampai letih menyerpih. menjadi huruf-huruf tak beraturan di hadapku. berputar-putar. menertawaiku!

katakan bagaimana harus kujawab. satu tanya yang lama kupinta jawabnya.

JERIT KOTA KEKASIH

dimana kau tinggalkan jejak, pada sunyi yang berhamburan di mataku.
tak kau tahu ragu berkejaran di dadaku.

dimana kau tuliskan cerita, pada hening yang bergulir di matamu.
tak kau pahami tanya berdesakan dikepalaku.

kuadukan pada gerimis senja itu. tapi dia bisu.
kuadukan pada angin memburu. tapi diapun ragu.

hingga, mengangkasa jerit batinku pada langit. dan
kutuliskan di situ: kapan kau kan pulang untukku?

di antara laju kereta kau pun pergi tinggalkan aku.
dalam sunyi rangkulku.

PAPAN HITAM PENUH AKSARA

papan hitam dipenuhi aksara. gulita
tak sanggup diterjemah kata. mungkin rahasia membuta.

aku demikian gigil dengan gelisahku.

ada yang terhapus pada papan hitam. tanganmukah
melakukannya? hingga tak lagi kutemu aksara disana.

hanya tinggal jejak tanya. mengapa tak kau hapus juga

gelisah di dada.


SAJAK BUAT MAS NANANG

1

untukmu nun disana,

akankah waktu kan tuntaskan raguku terhadapmu. akankah rinduku kan membawamu kembali dalam tatapku. adakah langit yang mendung kan usik dirimu tuk segera pulang untukku?

adakah? adakah? adakah?

untukmu nun disana,

dimana kulabuhkan perihku tak jera menggoda. dimana ku tautkan harapku tak dipinta. kau dan kau. berkekalan di ingatan. serunai cinta yang kau selipkan ditulang rusukku. pada retaknya kau tak jemu merayu.

"yakinlah! yakinlah terhadapku!," pintamu, " aku akan selalu pulang untukmu, "

"sedang musim berlalu tak menunggu, " rintihku.

" jangan lagi ragu hatimu!" rayumu.

dan aku membisu. melayang pandang cakrawala nun jauh di sana. adakah matamu pun tertuju padanya?

pada guratan-guratan luka yang kutoreh di waktu lampau. pada peti menyimpan kisahku. pada sepi temani rintihku. kuadukan dirimu.

tak. tak aku meragu. andai kau di sini bersamaku...

2.

berhimpitan bayangmu merayuku. merindu. kuingin menemu desahmu. palungkan hasrat terdalam menyayangimu.l ayaknya nafsu menyeretku. mengurungku!

aku tertipu!

adalah aku. perempuan yang bisu. merangkum sajak memujimu.l ayak pungguk mungkin rindukanmu, rembulan. menggantung harap pada matamu garang menghardik.

adalah aku. perempuan yang bisu. mencatatkan alamat pada pusara jasadmu. tak kah ruhmu pun tahu? di sini ruhku menati cintamu. layak syirik menerik pekik.

aku tertipu!

adalah kau. lelaki yang puisi. menjelajah luka nganga terbata. layak pangeran mungkin mengulurkan tangan. menjarah kisah yang coba kusimpan rapi di bilik-bilik terdalam.

adalah kau. lelaki yang puisi. yang menggores cumbu dalam ragu menderu wajahku merindu. pada tatapmu tak jera kutuju. layak selingkuh tauhid kupertaruhkan!

aku tertipu!

pada fana. pada fana. pada fana.


3.

kau adalah bayang itu. tatkala senja turun bersama gaunnya yang jingga. meleleh keringatmu di bawah jerit memekik langkahmu terseret terbawa udara panas meranggas jiwamu cemburu. pada waktu

kau adalah telaga itu. menyimpan rahasia di palung terdalam yang hening mengering. melaknat peristiwa berguliran di wajahmu yang sayu membatu pilu tergugu. pada hiruk

kau adalah kesunyian itu. menghela heningku yang hiruk oleh lugu terhempas dusta terbata pada kata meminta meronta tak jera menyergap melaknat. pada dekap

kau adalah pencarian itu. menjelajah sukmaku memburu membisu tak jemu mendayu-dayu kelu. pada rasa

kau adalah bisuku!

4.

meresah udara meresah mata meresah peristiwa meresah

berhembus cerita berhembus realita berhembus doa berhembus

diselipkan di suatu masa rahasia

tak lagi. tak lagi. tak lagi

sebab,

pada-Nya diistirah segala pinta segala rasa segalanya

dilabuh segala keluh segala gaduh segala

tak lagi. tak lagi.tak lagi

sebab,

hanya Dia penggengam hati penggenggam mimpi menjadi penggenggam

tak kuasa kita hanya menjalani

terbaik!

tak lagi. tak lagi. tak lagi.

sebab,

toh! hanya pada-Nya kita pasti kembali

satu!


MUNGKINKAH ENGKAU CEMBURU?

mungkinkah Engkau cemburu, jika kucinta ia dalam Cinta-Mu dalam tatap-Mu dalam Sayang-Mu dalam ridha-Mu

mungkinkah Engkau cemburu, jika kucinta ia dalam penyerahan pada
kehendAk-Mu semata, pada peta yang Kau gariskan dalam hidupku

mungkinkah Engkau cemburu, Kekasihku?





SEPERTI TANGIS HURUF-HURUF


seperti tangis huruf-huruf, demikian rindu meneteskan airmata, di
sela-sela kalimat cinta, memuara, memuara di senja kala.



TELAH DIPILIHKAN ENGKAU

telah dipilihkan engkau. sebagai anugerah terbaik bagiku. setulus
cinta yang kutemu di bening mata. seindah rindu senyummu.



BELAHAN JIWA YANG MENCARI

lalu
kita serahkan
mimpi kita
pada pemberi tanda
segala kepastian

seperti
disematkan
pada takdir
sebuah ajal
kelahiran
dan kematian

di waktu
yang tak terduga

telah dicatat
sebagai riwayat
di rahasia
kehendak

sebelah jiwa
yang
sepi
menemu
belahannya
sendiri

sebagai adam
menemu
hawa

sebagai yusuf
menjumpa
zulaikha

jiwaku
mencari
belahannya

mungkin
engkau

seperti digurat
pada
ayat yang kekal

oleh jemari
cintanya
pada
sebuah entah

pada
kehendaknya

Depok, 2002


HUJAN SORE INI

hujan yang mengunjungi sore hari
seperti airmata

tak henti merembes di pelupuk
basahi kerontang dada sendiri

sebuah sajak menari
dalam sunyi

lintasan bayang:
engkau yang jauh

aku menyimpan nyeri
membisik bisik:

lirih suara
sampaikah padamu

Depok, 2002



DI DADA CINTAMU

pada tangis yang tersendat dan cemburu yang menyelinap di dada cintamu aku meringkuk dengan gores luka setubuh tubuhku diri yang lelah bertarung di hiruk pikuk jaman yang menusuk menetak mencongkel mengadukaduk seluruh rasa suka dukaku derita bahagiaku sebagai pecundang yang lelah berlari memekikan kekalahan demi kekalahan menerima kutuk dan maki sebagai upacara diri sendiri meneriakan nyeri perih tak tertahankan lagi.

o, di dada cintamu, kekasih, aku ingin istirah!

Depok, 2002



SEBAGAI EMBUN DI SUDUT WAKTU

Sebagai embun di sudut waktu. Dikekalkan menjadi pendar cahaya. Di matamu, sayang didongengkan mimpi-mimpi kita. Orang yang tak henti melangkah.

Tercatat pada ingatan. Negeri di jauh lampau. Di sebuah entah. Dan kita merindu untuk pulang.

Kita bersenandung lirih dan perih: “Lihatlah, lihatlah, luka-luka kami, Kekasih. Merindu-rindu wajahmu.”

Peluh mengucur sebagai keluh. Kita berarak dengan dada yang riuh dan gaduh. Mengetuk pintu-pintu di segala waktu. Dengan segala aduh nyeri rindu yang penuh. Meluber mencari teduh wajah, dalam ingatan. Tak pernah luruh.

Gemuruh rindu menggelombang: “mari pulang, marilah pulang, marilah pulang bersama-sama.”

Sebagai embun di sudut waktu. Di matamu sayang, bergulir berpendar cahaya matahari. Dikekalkan ingatan menuju pulang. Menemu kembali wajahnya di surga yang hilang.

Depok, 2002
KOTA KEKASIH

malam yang menyimpan gigil rindu kota kekasih o simpan cerita simpan dalam dada melintasi jalan-jalan ribuan kenangan memijar-mijar dalam kepala senyum yang bercahaya mata yang bercahaya tangis yang cahaya sebagai rasa cemas akan kehilangan lelambai tangan o di balik jendela kereta menderu pohon-pohon berlari rumah-rumah berlari malam menghitam gerimis menjadi deras hujan: o kota kekasih!

depok, 2002


DI MATAMU KEKASIH

di matamu kekasih, kutemu negeri rerimbun pohonan menghijau daun, gemercik alir dari mata air, jembatan bambu yang terbentang. kanak-kanak tertawa riang menyeberangkan mimpi dan harapnya. o, di dada yang merangkum kasih sayang, kanak-kanak mendekatkan kepalanya. tiktak kehidupan, berdetik di dada cintamu.

lumajang, 26-11-2002, depok, 28-11-2002



MENELUSUR JEJAK DI TERIK PANAS

menelusuri jejak di terik panas, o di mana kota yang menyimpan mimpiku.
udara melelehkan keringat, terhuyung aku di bawah matahari.

kutelusuri jejak. hingga kutemu. mata air. rinduku

malang, 25 november 2002

INILAH AIRMATA

inilah airmata. menyelinap dalam senyap. gemeletar tatap. sebagai cemburu. memburu masalalu: peta-peta yang diberi tanda. penanggalan dan riwayat.

tapi siapakah yang membaca luka sebagai puisi. selain jemarimu yang menelusur jejak rasa sakit. hingga kau tahu, manusia menanggung kutuknya sendiri. memanggul kata-kata dan menggulirkannya dari puncak derita bahagia.

o jutaan huruf terlepas dari jejemari. bergulir kata-kata. di tebing pipi. sebagai airmata, yang kau terima, sebagai debar dalam dada sendiri.

hanya ketulusan menerima. sebagai muara. mengalirkan kesah pada laut keabadian. cintamu.

Depok, 2002



KEKASIH BERKATA

Kekasih berkata: aku cemburu kepada tuhan. Dia selalu merebut segenap cinta dan rindumu dariku. Tak dapatkah kau tanggalkan Ia walau sekejap, agar cinta dan rindumu untuk aku

Kekasih menjawab: sayangku, apakah kau ingin menyengsarakan diriku dirimu dengan menuhankan dirimu? Aku terlalu mencintaimu, karenanya tak kubiarkan cinta itu melaknat diriku dirimu. Cukuplah dia menjadi saksi cinta yang sesungguhnya






KUHIRUP ASMAMU

Kuhirup asmamu dalam kalbuku, membiru. Kutelusuri tiap jejaknya dalam harap cemasku. Kuhembuskan dalam kepasrahan. Harap bahagia selalu menjadi.


MAWAR

Mawar masih sekuntum
Mengulum salam senyum

Padamu yang satu


SEBULIR BENING

1.
Sebulir bening mencari muara
Mengkristal ia di sekeping hening
Mengering

2.
Hening masih sekeping
Lingsut dari tangis malam diam-diam
Hempaskan bening masih sebulir
Mencumbu pagi penuh harap kemenangan