Sabtu, Desember 28, 2002

SKETSA PETA PADA TATAP MATA

O mata. Sebagai bening rindu demikian hening. Ke dalam dadaku kau alirkan segala mimpi dan harap. Tatap yang tak henti menjelajah relung-relung terdalam rahasia waktu.

Pada sketsa peta. Sebagai tanda yang harus kubaca. Setulus cintaku. Gulir butir airmata. Menemu tuju. Menemu mula segala rindu. Di negeri yang jauh. Di langit yang jauh.

Demi pemilik segala rahasia waktu, kutemu cinta di tatapmu, o mata. Menerobos relung terdalam rahasia dalam dadaku!

Depok, 15 Desember 2002



KARENA-MU

karena-Mu aku mencinta. bait-bait rindu yang kekal Kau hembus di dadaku. sebagai takdir yang tertera di kehendak-Mu. aku serahkan diri. juga cinta. kulewati abad-abad kepedihan meneguhkan syahadahku. menempuhi jalan terjal berbatu. menempuhi goda sepanjang usia dunia.

O Engkau, karena-Mu. atas kehendak-Mu semata. aku mencinta. kami saling mencinta. maka berkatilah cinta kami berdua.

hingga kerdip cahaya cinta menyatu dalam Cinta-Mu!

Depok, 14 Desember 2002


AKU INGIN MENJUMPAIMU

Aku ingin menjumpaimu. O mata, yang menerbitkan cahaya rindu dalam dadaku.
Seperti cahaya dan gerimis yang menggambar pelangi. Di lelangit harap saat
kau tunggu dengan rayu dan tatapmu.

Demikian manja gerimis menyapa. Cahaya disela-sela. Memendar pendar. Mewarna di udara. Lengkung mimpi kanak-kanak ke langit cintamu.
Biarkan bait-bait rindu menelusup dalam mimpimu. Huruf demi huruf yang beterbangan di buku hari-hari. Berdiam dalam dadamu. Dalam hangat pelukmu. O, yang merindu.
Aku ingin menjumpaimu. O mata, hingga tumpas rindu dendamku. Dalam tatap matamu.


Depok, 16 Desember 2002





MASIH KULIHAT REMBULAN DI ANTARA SIHIR LAMPU KOTA

buat: kunthi hastorini


masih kulihat rembulan, cahayanya yang kuning keemasan, menggoda ingatanku, kepadamu. di antara lampu-lampu merkuri dan sorot kendaraan, aku takjub memandang langit, rembulan yang terang cahayanya. aku ingat engkau sayangku, dan ribuan kata-kata berloncatan ingin menjelma puisi.

puisi menjelma dari sepotong film animasi. dunia kanak-kanak yang menjadi kenangan. bayangkan kita memandang rembulan dan mengaung, sebagai serigala, yang menggetarkan langit dengan jerit yang teramat sedih. mungkin rindu. pada kekasih di langit yang jauh. di negeri yang jauh. di angan yang rapuh.

malam ini, sayangku, aku ingin kau tatap rembulan, terang cahayanya. seterang cinta kita yang menerang langit. demikian purnama.

Guntur 18 Deseember 2002, Malabar 19 Desember 2002




DI DEDAHAN SAJAK

di dedahan sajak beburung jiwa singgah
istirah melepas lelah

penempuhan adalah jejalan panjang
berliku dalam pusaran waktu

di dedahan sajak beburung jiwa menyanyi
nyanyi rindu kekasih diri

demikian cinta memanggil panggil
mendebarkan jejantung hati

di dedahan sajak beburung jiwa melagulagu
mengetuk paruh pada pepohon irama kata

pepohon hidup menari-nari
dipeluk dipagut sepoi hembus berangangin

di dedahan sajak beburung jiwaku singgah
istirah melepas lelah

Depok, 2002


DI PUSARAN WAKTU

telah dilabuh gelisah pada pusar waktu
hingga larung abu pada sarang angin

gelombang sunyi diri sendiri

tinggal beburung jiwa menemu
karang julang tegak menantang

demikian terjal jejalan hidup di tatap matahari

sekepak sayap sekepak sayap menempuh tempuh
disayat hayat disayatsayat hingga mayat hingga tamat

tapi akan dilabuh juga segala gelisah pada pusar waktu

hingga larung abu pada sarang angin
gelombang sunyi diri sendiri

menjelma beburung jiwa

terbang mengepak dari matamu
menempuh tempuh sekepak sayap sekepak sayap

hingga sampai mematuk patuk mengetuk

pintu langit membuka
bagi jerit perih kerinduan jiwa

menemu cinta menemu cintanya

Depok, 2002



AKU LUKIS SENYUMMU YANG MAWAR

Aku lukis senyummu yang mawar
Dalam ingatan yang merindu

Tatapmu memanja rayu
Nyelinap dalam kalbu

Angan harapku
Bahagia engkau

Bersamaku selalu
Menuju Satu

Depok, 2002


HENING YANG KAU PUNGUT

kau pungut sekeping hening dalam kelambu jiwa meronta tiada. dan kau tanam ia dalam desah nafas memanas menderas. kau katakan padanya, bahwa kau akan menunggunya hingga ia tumbuh dan berbuah.

kau masih disana. memintal cerita dalam sajak-sajak jemari menari.dalam hujan dan terik yang menghardik jasadmu kegelisahan. tapi kau masih setia, menghitung hari dalam nyeri.

menyulam mimpi dari kejauhan yang merapuh. derita yang pecah. bahagia yang gerah. tak kau peduli. kau masih disana.

tak kau pahami bulan berotasi tujuh musim lamanya. mungkin, jenuh pun kan datang sebagai goda. atau bimbang jelang sebagai dentang.

hanya pada kedirian semua berawal. dan dari kedirian pula semua berakhir.

kau masih disana, dengan cinta!
TAWAMU PECAH
: Nanang Suryadi

tawamu pecah membuncah gairah. pada titik-titik resah kau tampung malam menyimpan cerita. duka yang berkejaran di sebalik gelisah manusia.

apa yang dicari dalam malam?selain dirimu yang membaca guratan-guratan luka manusia. menelanjangi tiap detak jantung derita. merampas alur hujan yang jatuh dari mata-mata kelelahan.

dan, tawamu pecah. sebab, tak ada lagi mesti di tangisi, selain luka masih nganga sebatas mimpi saja!
Dimanakah Engkau, duhai cintaku

malam demikian gelap, meratap. ruh-ruh berkeliaran kesana-kemari, gelisah. dan, ada yang teriak dari balik kolong ranjang kerontang, mengerang.

"Betapa aku lelah ya Rob, dimanakah Engkau, duhai cintaku. Rindu aku ingin tatap wajah-Mu!"

wajah-wajah lantas berbaris, menyelinap diam-diam dari balik dinding pucat. alangkah rupawan, alangkah menggiurkan. ach. betapa bahagia cekikikan.

malam tak lagi gelap. cahaya berpendaran, menawan. tak ada ratap, tak. hanya tawa berderaian memabukkan. duhai inilah dunia kenikmatan! arak? mana arak biar terpuas nafsu memburu, ah!

tapi, plop!

demikian hening mengering, "tidak!, jangan pergi!". demikian teriak memekak. demikian haus tak terpuaskan!.

ruh-ruh sesegukan ketakutan. gigil memanggil kerdil. wajah-wajah bergantian, berputaran. haus. haus. haus. wajah kesejatian. dimana duhai kiranya Dia,

cinta?