Jumat, Desember 27, 2002

Sebagai Doa

Sebagai doa mengalir ke muara hatiku, o Cinta
Mengalirlah mengalir bersama waktu

Sebagai doa mengepak sayap ke langit jiwaku, o Cinta
Terbanglah terbang menembus langit Rindu

Sebagai doa, jejak menapak demikian ikhlas, O Cinta
Langkah kaki menuju:

Senyum-Nya yang dirindu



Bening Danau

Akulah angsa yang berenang di bening danau
Merentangkan sayap di hangat matahari

Bernyanyi riang. Bernyanyi riang

Sesekali kubenamkan kepala dalam-dalam
O, keteduhan, larutkan gundahku

Akulah angsa yang berenang di jernih tatap

matamu

Sketsa Dinihari

Di bening hening, mengembun ingatan
Pada engkau, cintaku

Di manakah engkau, sayang?

Tak ada suara juga aksara
Kurindu kata menyapa

Di manakah engkau, sayang?

Kucari engkau
O, yang nyalakan Cinta

Di dada risau!



Cahaya Mata

O mata,
demikian binar,

mencahaya



Kita Akan Pulang Sayang (3)

Tak ingin lagi kuseru dengan suara menderu
Biar dengan sunyi, biar dengan rindu kusapa dirimu

Kerlip di matamu, o kekasih
Suar harap musafir, hingga tak lagi letih

Menapak setapak demi setapak
Mengikut lamat jejak

Digurat peta di dada sendiri
Di rajah tangan, garis nasib sendiri

Ya perindu, di jalan sepi, Cinta membara api





Kita Akan Pulang Sayang (2)

sebelum habis gairah. sebelum payah melungkrah langkah.
tak kan henti. tak kan henti. menapakdaki.

jika pun di sini kita istirah,
hanya sebentar mampir minum seteguk teh di perjalanan

lalu kita pun harus tetap melangkah
menuju Cinta yang selalu dirindu

kita harus sampai. di tuju
di rumah yang dirindu

mari sayangku
kudekap engkau dalam pelukku

berjalan menuju
rumah rindu





Di Sebuah Senja

cakrawala demikian jingga, merona
ketika kutatap, dia tertawa

(sayang, gerimis tak hadir menyapa)

cakrawala masihlah jingga, cahaya
menelusup di antara keping jiwa kita, bahagia

di sebuah senja
bersama kita puisikan, cinta


Apa Beda


jauh atau dekat
apa beda,

hanya jarak

bicara atau diam
apa beda, hanya suara

segalanya ada pada diri kita





Hujan Sore Itu

menitik air mata satu satu
meresap jauh ke lubuk kalbu

meluncur bagai anak panah siap melukai kapan saja
tapi, biarkan. biar saja kunikmati tiap tetesnya satu satu

berlagu seperti puisi yang kau kirim padaku sore itu



LANGKAHKU TAK LAGI RAGU

langkahku tak lagi ragu
ada kau, aku tahu





Dalam Diamku

dalam diamku, dalam desahku
bertanya kau di mana

berpikir kau sedang apa
berharap kau pun baik-baik saja
Bergeraklah Dengan Kesadaran

bergeraklah bersama hembusan bayu yang tak henti mendekapmu,
membagi sebuah kekuatan

di sana ada dzikir, di sana ada doa yang terkatup dalam hening jiwa

yakinlah, ada aku yang percaya kau kuasa
lawan segala yang tak semestinya. yang tak biasa

bergeraklah dengan sepenuh kesadaran!



Telaga Hatimu

Berlari melintas
tinggalkan kelam merajam
Sampai pada..
telaga ku temukan

Alangkah bening,
dan biarkan ku bercermin
menatap seberapa dalam ia
larutkan segala...

dalam bening
matamu



Apa Yang Harus Dikata

apa yang harus dikata, bila dunia terus berputar
seirama detak detik jiwa,bersuarapun tak lagi kuasa,

meratapi setiap ruang yang masih tersisa.

harapan akan selalu ada, meski tak selamanya
bergumul dengan cerita yang apa adanya

hanya apa adanya, disana kan kau jumpai cinta. mungkin begitu biasa,
mungkin begitu sederhana. mungkin juga begitu istimewa





Kita Pasti Pulang, Sayang

Suatu hari nanti entah kapan
kita kan pulang,
tapi harus sendirian
sayang

tak lagi tangan bergenggaman
tak lagi mata bertatapan
dan
tak lagi bermesraan

hanya
jiwa baur semburat kesepian
yang panjang
Sayang

Sebab
hanya kesemuan merajam
pinta bagi suatu kesejatian
Tuhan





Kita Akan Pulang Sayang (1)

kita pulang, katamu. kan dilabuh segala lelah. istirah. melebur
amarah. menyalakannya jadi gairah.

tapi di mana rumah. senyum dan bening matamu. memetakan arah.

tunjukkan arah pulang sayang. tunjukkan.

berjalan kita. menuju pulang





Sketsa Ke Berapa Tentang Kenangan

1.
masihkah kau putar lagu, dari masa lalu, sebagai bayang, ingatan tak
habis kikis, bersama waktu, bersama waktu.


2.
kuingat takikan pada pohon karet, mengucur, mengalir, menggumpal.
guratan pada batangnya seperti puisi yang menanda. luka

3.
bagaimana dibangun sebuah harap. pada puing. tak lagi dipercaya
puisi. juga kata. engkau menyeru: o, siapa yang dapat membebat ini
luka di dada!

4.
sebagai puisi. kenangan menuliskan airmata. duka dan bahagia.





Dalam Diamku

dalam diamku, berlagu
menapak jejak-jejak langkahmu
menatap setiap ruang disitu
mengenalmu, memahamimu, mempercayaimu
seiring bergulir waktu
merengkuh, mendekap, jiwamu
selalu,
dalam bisuku




Bersamamu Kekasih

O ayun ambing di kapas-kapas awan
Bersamamu kekasih, bersamamu

Menerbang menerbang mengepak kepak
Di lalu angin, di hangat matahari

Hingga di pintunya kita ketukan paruh
Dan o Cinta, semoga dikatakannya dengan gembira:

Selamat datang, o yang merindu...