Postingan

Menampilkan postingan dari 2002

Siapa Gerangan

Selarik sajak mengalir jatuh ke bumi
Kuterima pagi tadi

Apakah langit sedang berilusi?

Ketika, ratusan tinta entah berapa
Merajuk malu-malu

Siapakah gerangan dia. Cinta?

Kunthi Hastorini

Tafakur Lelaki

lelaki, tak peduli
bertafakur di dingin masa nan sepi

berkisah dan pasti
gemuruh suara hati, tak henti

ratusan puisi baur dengan udara
telah terkata
..…..

Kunthi Hastorini

Lelaki Berpuisi

Lelaki berpuisi, ketika awan begitu hitam membayangi sepi
Dari jauh aku mengintai ia

Satu satu air mata langit jatuh kebumi, lelaki terus berpuisi
Berpuisi merajuk mata hati
Ingin berlari, sembunyi
Tak kuasa

Inikah cinta? bibir pun tak lagi berkata
Karena berdiam di sisinya, telah terkata:

Cinta

Adakah Kau Rasa

Adakah kau rasa derak langkah Nya
Di antara keheningan masa tak berjeda
Adakah kau dengar Senandung nina bobo Nya
Istirahkan lelahnya jiwa

Adakah, adakah Kakanda?

Kau nyanyikan kidung seirama kidung Nya
Bergulat dengan cahaya Nya, bermesra surga
Adakah pelaminan hening memapahmu tuk kembali
meniti puisi diri, sendiri menanti

Kunthi Hastorini

Jika Cinta Hadir

jika cinta hadir bagi hati, biarlah dia mengalir seperti air
tak usah lagi siksa itu mendera. tak usah!

tak ada sakit, demi kau yang pantas bahagia!
seperti doa pintaku padaNya

Kunthi Hastorini

Kuingin Katakan

kuingin katakan, aku begitu takut merengkuhmu dalam hari-hariku. seperti kulihat hijab itu begitu tebal. tak bisa kusibak seperti bibirku yang bisu. seperti hatiku yang beku

tapi, percayalah , aku selalu mengingatmu dalam tiap detik hariku. merindukanmu. mengenangmu.

meski, aku pun tahu, aku takut pula melakukan itu. ada yang kutakut marah dan cemburu karena nya aku begitu takut. dalam gigil ruh ku takut ditinggalkan Nya. seperti selalu aku mengkhianati Dia

akhirnya, hanya satu pinta dari palung hatiku. berbahagialah dengan cinta. tak ada sakit disana. semestinya. kuingin katakan, aku menyayangimu. berharap yang terbaik selalu bagi dirimu.

insyaAllah, Allah menjagamu


Kunthi Hastorini

Bagaimana Dapat Kau Rasa

bagaimana dapat kau rasa
sedang jeda waktu lamban berputar
berputar

seperti pikiran gemetar
bergantian

aku sayang. hanya itu yang dapat aku katakan.

…………..

demi masa, demi cerita
datang pergi, begitu saja

dalam gelak tawa, dalam tangis lara
terselip doa

bunda

cinta, kau rasa

Rahasia Danau

Danau,

meski tenang
tak

meski dalam,
tak

meski diam,
tak

manusia melintas,
manusia bercermin,
manusia tenggelam,

tak.tak.tak

Kunthi Hastorini

Di Ujung Setia

di ujung setiaku yang sunyi. menandai udara dengan derai mimpi berlari.
menanti dalam untai hari menit jam detik. sampai pada letih merintih.
usik usir aku di sudut waktu yang bisu.


Dari Kerling Hening

dari kerling matanya bening, luruh bulir-bulir hening.
meresah terik udara memekik, ziarah sang cahaya doa.
setipis bibir merekahlah!

Kutulis

kutulis dengan embun basah
pada desah rumput dedaunan

hingga tak udara meresah
-sebuah kata yang telah lama lelah: Cinta

Yang Bercanda Di Sela Hari

Cahaya yang bercanda di sela hari
adalah tawa yang bersenda di matamu

bahagia

Menemu Negeri Cahaya

Dan kulayarkan lagi mimpiku dalam gelombang badai mencari negeri
Negeri di mana pohonan beranting cahaya berbuah cahaya

Telah lama kulayarkan mimpiku dalam gelombang badai mencari negeri
Angin menderu perahu terpelanting berulang kali tenggelam aku berkali-kali

Sampai kutemu negeri
Di matamu yang cahaya

Jangan lagi kau masuki negeri tak pasti, katamu
Menderaskan airmata, menderas, hingga

O, berlinangan cahaya

Aku Merindu

Aku Merindu (1)

aku merindu, sungguh aku merindu, sapa suaramu cintaku. seperti ada yang merembes dari pelupuk mata. menatap layar yang kosong, mailbox yang kosong, tak ada kabar darimu.demikian merindu aku, sungguh, demikian merindu. hari-hari menjadi serasa hampa. karena tak ada sapa. duh, apa kabar dirimu, cintaku. semoga kau baik-baik saja.

jika saja rentang ini dapat kulipat, ah, jika saja jarak ini tak ada lagi, aku akan selalu bersamamu, di dekatmu. aku merindu, sungguh aku merindu, kau pun tahu, cintaku...

Kampus UI, 11 Juli 2002

Aku Merindu (2)

rindu menggoda bayang melintas detik meluncur dalam wacana rindu jam mengaduh mencemaskan kalimat cinta baris-baris duka dalam bait sepi hari gelisah bulan cemas tahun menanti windu menggoda sedalam harap mimpi

sedebur gelombang mendebur debur di waktu waktu tak lalu setatap tatap matamu penuh tanda tanya mungkin ragu mungkin gundah seresah kata yang berjatuhan dari puisi


Aku Merindu (3)

dari cemas dan harap juga rindu aku menye…

Pada Keping Yang Sama

Hidup, mencari artinya sendiri,
memberi makna kepada kehidupan

O, orang yang merindu,
pernahkah kau rasakan cinta sebagai kepedihan

Demikianlah seorang pecinta
sampai pada puncak perihnya

Sebagai nyala dalam dada
menjela-jela

O, orang yang merindu,
lihatlah: pedih dan bahagia

di keping yang sama

Menapak Jejak di Jalan Setapak

Di jalan setapak seorang yang merindu menapak jejak
Melangkahlah ia melangkah mencari Kekasih

“Inikah setapak jalan menuju Engkau?”

Sepanjang jalan pepohonan berkesiur ditiup angin, melambai-lambai
Serangga berdenging bersahutan, burung-burung bernyanyi riang

“Aku tuju Engkau, ya Kekasih. Sambutlah aku dengan senyummu!”

Pohonan terdengar menzikirkan nama Kekasih
Serangga bersahutan mengamini, burung-burung mendawamkan Rindu

“O Cinta, kan sampai aku di hadapmu!”

Jalan setapak licin menanjak menurun mencuram tajam
Membelah lembah-lembah membelah gunung-gunung

“O, kan sampai aku padamu?”

Wajah sang perindu demikian cahaya
Menapak jejak di jalan setapak

Mencari Kekasih yang selalu dirindu. Tak henti

Depok, 31 Mei 2002

Sangsi, Jangan Jadi Duri, Halangi Langkah Kaki

aku akan terus berjalan,

biar curam, biar jeram, biar tajam, biar..
langkahku pasti,

hingga sampai pada tepi
di mana kau, cintaku menanti

Sebagai Hujan

Airmatamu adalah hujan
Lunaskan dahaga kemarau

Kanak-kanak berlarian berteriak riang
Telanjang dada telanjang kaki demikian senang

Airmatamu adalah hujan
Lunaskan haus terik risau

Kanak-kanak bermandi airmata
Menari-nari demikian bahagia

Menemu cintamu

Kau Tahu, Cintaku

kau tahu, ada yang mendoakanmu,
semoga kau baik-baik saja

kau tahu, ada yang mencintaimu,
semoga kau baik-baik saja

kau tahu, ada yang merindukanmu,
semoga kau baik-baik saja

kau tahu, ada yang menyayangimu,
semoga kau baik-baik saja

kau tahu, ada yang mengkhawatirkanmu,
semoga kau baik-baik saja

kau tahu, kau tahu,
seperti terasa di hatimu

ada aku menatap potret wajahmu


Sebagai Embun

tak ada hujan menitik hari ini, di juni yang kering
tapi kurasa bening embun, dari sudut matamu, menetes

rasakan keheningan, dalam diam suara, o, yang merindu
setitik bening, setitik bening, sebagai embun, di pipimu

mengalir, menelusup ke relung jiwa

Bahagia Diri

Demikian bahagia diri
Mencintai setulus hati

Demikian bahagia diri
Dicintai setulus hati

Berjalan kita meniti
Menuju pemilik cinta sejati

Adalah Cinta

"Cinta adalah hidup, hidup adalah cinta," katamu.
Matamu demikian binar

Kembang api melesat
Menerang di tengah malam

Adalah Cinta
Adalah Cinta



Tak Lagi

langkahku tak lagi ragu, katamu, dengan binar mata. di sore yang menyimpan catatan perjalanan airmata.

kutahu, kutahu lebih dari yang kau tahu, katamu. seperti lagu, kuputar selalu. mungkin rindu.

langkahku tak lagi ragu, kataku. menelusur sepanjang jalan, ruang waktu, bersamamu, di sisiku.

menemu Yang Dirindu

Teruslah Melangkah Kekasih

Teruslah melangkah kekasih. Kan kita cari bersama Cinta dalam senyum-Nya.
Jangan lagi ragu. Jangan. Karena tak tahan ini diri, tanpa teman dalam perjalanan.

Tetaplah bersamaku mencari: Pemilik Cinta Sejati.

Jika kulelah melangkah. Beri aku semangat. Bila aku kehilangan arah.
Tunjukanlah. Ke mana kita akan terus melangkah.

Dinyalakan-Nya

Tak ada mengapa bagi cinta. Diterbitkan dalam dada kita,
kehendak-Nya semata, dinyalakan-Nya dalam hati kita, sebagai cinta.

Demikianlah Ia mencintai kita. Dinyalakan api cinta.
Demikian lambat atau demikian cepat. Kehendak-Nya-lah.

Kehendak-Nya. Semata

LENGKUNG MIMPI

Dan kanak-kanak bergelayut di alismu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Beterjunan ke jernih matamu. Telaga rinduku.

O kanak-kanak yang riang. Meluncur dengan derai tawa.

Dan kanak-kanak menemu senyummu. Lengkung mimpi. Kau dengar kekeh tawa mereka. Meluncur di bibirmu.

O kanak-kanak yang riang. Menemu cintamu!

Ziarah Kenangan (2)

jalan-jalan yang menyimpan cerita, dingin kota
o, berdesakan bayang, berduyun mengunjungi benakku
dengarlah kekasih, kudongengkan kenangan

dan engkau tersenyum di hadapku,
menemu tatap mata
menelusur ruang dan waktu

Malang, 6 Agustus 2002

Bagaimana Dapat Kugambarkan Bahagia

bagaimana dapat kugambarkan bahagia
seperti kutemu di tiap detik waktu bersamamu

bagaimana dapat kugambarkan bahagia dalam puisi,
sedang kata tak dapat menyampaikan

demikian bahagia diriku
di dekatmu selalu

malang, 12 agustus 2002

Matamu Adalah Cahaya Purnama Bulan

matamu adalah cahaya purnama bulan, kataku. tapi engkau tertawa
mendengarnya. akupun tertawa. entah mengapa.

kitalah penyair yang menulis sajak sepanjang jalan. dengan derai
tawa. mencandai waktu, mencandai diri kita sendiri.

hingga suatu ketika ada tanya: masih perlukah metafora untuk senyum
dan tatap matamu. juga cinta.

Malang, Agustus 2002

Kutemu Senyummu

sebagai butiran embun, senyummu, lunaskan dahagaku
pejalan yang demikian lelah telusuri mimpi

kutemu senyummu, kutemu
lunaskan rinduku

Malang, 6 Agustus 2002
Lelah

aku demikian lelah
ingin istirah

(senyum dan doamu
menyelinap dalam dadaku)



Senja di Alun-Alun Kota

ada yang berpendar pada air yang memancur,
cahaya matahari senja,

lampu jalan, lampu taman, mulai dinyalakan

apa yang kita bicarakan di situ,
pada desir angin dingin

kanak-kanak yang meniup gelembung sabun

lihat tawanya, menyeringaikan gigi yang baru tumbuh,
ah, seperti juga kanak yang kutatap di matamu

terkekeh demikian riang,

senja merapat, gelap melindap cahaya
gema azan menelusup ke dalam dada kita

di sebuah senja

Malang, Agustus 2002
Doa Dalam Dada Kekasih

doa dalam dada kekasih
detaknya mengetuk-ngetuk langit

cahaya melintasi jarak waktu

harap menjelma jadi
penuhi janji kehendak

dengarlah detak dalam dadaku:

kehidupan yang akan terus kau dengar
serukan cinta dan rindu berulangkali

dari sunyi diri sendiri

sesungai senyap dibingkiskan kepadamu
sebagai ketulusan memberi

begitu juga ketulusan menerima

mengalir riwayat manusia
ke muara akhirnya

ke mula asalnya

Depok, 11 September 2002
APAKABAR SAYANG? AKU DEMIKIAN LETIH

Apakabar sayang? Aku sendiri, menelusuri sunyi. Sebentang jalan, kutapaki.
Remang cahaya. Denging suara serangga. Aku demikian letih.

Depok, 2002

FAJAR TUMBUH DI TIMUR LANGIT

Fajar tumbuh di timur langit, merayapkan cahaya, mungkin harap
Membuka hari penuh gairah semangat, hadapi hidup dengan berani!


Depok, 2002
SEBAGAI KEYAKINAN DALAM DADA

Sebagai keyakinan yang berdiam dalam dada, tataplah mataku, akan kau temukan jawabnya. Tak akan sia-sia cintamu yang tulus. Mengembuni dada resah. Mengembuni jiwaku yang lelah.

Engkaulah cintaku, berdetik dalam detak nafasku.

Depok, 2002


Karena Cinta

Lalu kau ceritakan tentang derita. Menyetubuhi hidup. Lewat dusta dan petaka.

Tapi itu bukan cinta, sayang. Karena cinta adalah dirimu, diri kita, serta mereka yang mengada. Menghadir sejak dulu kala. Sejak dihembus ke dalam dada.

Cinta mencahaya. Mengingatkan wajah mula-mula: Cahaya maha cahaya. Dan kita merindukannya.

Cahaya demi cahaya melesat. Mengalir dalam waktu. Memuara ke lautan cahaya.

O, cinta maha cinta, mula dan akhir kata!

Depok, 2002
Demikianlah, Cintamu

Demikianlah, cintamu adalah doa yang diucapkan setulus hati. Sebening embun dinihari. Menjelmalah beburung jiwa, sebagai cahaya. Lesatnya sampai ke hariba Kekasih diri. Pada Cinta dan senyum-Nya yang abadi.

Depok, 30 Deseember 2002
DI SEBUAH KEDAI COKLAT

Harum rempah-rempah. Dalam secangkir coklat. Hangatnya mengusir dingin. Udara sehabis hujan seharian.
Dalam gigilku sendirian. Mengingat wajahmu. Mengingat derai tawa manjamu. Dalam remang cahaya. Aku mulai menulis: coklat….

Secangkir coklat hangat. Di kala aku merindukan dirimu. Tatap dan senyummu membayang. Di pelupuk mata berduyun kenangan. Diputar demikian manis. Demikian hangat. Menelusur ke dalam dadaku.

Depok, 2002
Tak Ada Yang Hilang, Sayang

tak ada yang hilang, sayang
hanya ruang dan waktu

tak ada yang hilang, sayang
karena berdiam aku di hatimu

Depok, Agustus 2002

Seperti Ada Yang Hilang

seperti ada yang hilang dalam ruang
berbaris kenang

bersama tak tik tak waktu terus berputar
liar

bersama kenang membayang, sayang



Menatap Senja

menatap senja, demikian jingga. seperti kubisikkan di telingamu tentang sebuah cerita di suatu ketika. seorang pecinta mencari cinta, pada sebuah peta. tak ditemu jua, demikian letih berjelaga, demikian sakit berderit- derit. tak ditemu.

gelisah meresah, melungkrah darah lelah. tatkala cemburu memburu beradu. tak ditemu.

seperti kubisikkan di dadamu. seorang pecinta menyerah pasrah. sebulir bening memapah gerah. pada suatu senja, pada sebuah dekap, pada sebuah senyap. pada.

hingga, seusap tangan menyapa. papah resah dari bilik mata. demikian cinta tiba selaksa. tanpa kata. tanpa.

di ujung senja, di sebalik tabir terbuka cahaya cinta. duhai! kiranya telah ditemu rindu. cahaya di atas cahaya. demi Allah yang merindu! demi Allah! demi.

menatap senja, demikian jingga. seperti lambai tertuju bagimu.



SEPERTI KULIHAT CINTA DI MATANYA

seperti kulihat cinta di matanya berkata.kata siapa cinta tak ada. dia ada dalam tiada. tiada dalam ada. sebab ia ada dan tiada itu sendiri. bagaimana kita memaknainya.

seperti kulihat binar di matanya bicara. kata siapa cinta itu dusta. sebagaimana perjumpaan ruh di pelaminan jiwa. saling mengenal dan berbincang. mesra.

kau aku dia semua adalah cinta. kau aku dia semua adalah dusta. bagaimana kita memaknainya.

cinta!



DUHAI PECINTA ISTIRAHLAH!

tak bersuara ia di satu masa. dingin seolah tak
bernyawa. telah laknat segala peristiwa. juga luka. demikian tangis tersia tak bersambut tawa.

bersenda maya ia di suatu ketika. selalu dan selalu. seakan tak jera. sebagai sihir dunia selalu menggelitik gemerisik. demikian tipu melulu merayu.

duhai pecinta. istirahlah! tak guna dicari cinta
didunia yang telah tiada nyawa. nyawa-nyawa itu telah terusir disatu ketika. pada tangis khianat. pada rimismeranggas kering kerontang. kosong!

duhai pecinta. berhentilah! tak guna diharap cerita di dunia yang telah berdusta. dusta-dusta itu telah merasuk dalam bangkai-bangkai penuh ulat. pada jasad yang hina. pada kepentingan-kepentingan membuta aksara cinta.

dan, bermuara segala pusar rindumu menemu yang satu.

satu!


HURUF-HURUF YANG BERGEMBIRA

huruf-huruf yang bertebaran mengangkasa, demikian bergembira, tak airmata siratkan duka, biarlah bergumul berpadu bersatu membentuk segaris senyum, di suatu senja

DALAM RIMISNYA, AKU KAN DATANG SELALU BAGIMU

dalam rimisnya. aku kan datang selalu bagimu. dalam sepenggal doa. dalam sepenggal cerita. yang mungkin tak sempat kau dengar dengan telingamu yang rahasia. tapi, tak kah kau tahu? hujan sore ini. kemaren. esok. masihlah sama. menangis dan menangis. tapi, jangan dengan pelupukmu. tersenyumlah seperti matahari tak henti bercahaya mesra.

dalam rimisnya, tetaplah tatap mata hati ini. bernyanyi dan selalu. dalam sepenggal harap. dalam sepenggal dekap. yang mungkin tak kau pahami dengan bibirmu yang rahasia. tapi, tak kah kau tahu? hujan sore ini. kemaren. esok. masihlah sama. menangis dan menangis. tapi, jangan dengan pelupukmu. tertawalah seperti derai angin tak henti berhembus tuk kau hirup kau hembuskan dengan penuh cinta.


ADALAH JIWA YANG KEMBAR

adalah jiwa yang kembar. dihembuskan di sebalik dada manusia. berabad lalu, lalu berpisah.

adalah kesendirian. kesepian. membulir luka di antaranya. seperti kecewa. seperti lelah. atau kalah.

mencari dan mencari tak henti. sebab kegelisahan meraja. kepedihan menyiksa. jiwa merindu kembarannya.

mencari dan mencari. tak ditemu. tak. sampai Dia mengedipkan sebelah mata. dan berbisik, dialah jiwa kembar yang kau cari, yang kau rindu.

adalah jiwa yang kembar. bertemu bersatu berpadu. dalam cinta yang diselipkanNya disatu waktu rahasia. tak ada yang tahu. selain mereka yang merindu.
KAU

desah desau desir angin. kepak sayapku memujimu. luruh satu-satu helai bulu takutku menujumu. mata yang teduh dimana ingin istirah letihku.

terbangkan segala peristiwa melampauiku.

kau!



APAKAH AKU MENCINTAIMU

apakah aku mencintaimu, tanyamu. seperti ada yang diterbangkan dari kepalaku. tanda tanya yang menari-nari di dadaku.

coba beringsut aku dari puncak gelisah. menemu dirimu yang satu. mencari jawab, apakah aku mencintamu?

apakah aku mencintaimu, tanyaku. seperti ada yang pecah di kepalaku. deret peristiwa telah melampauiku. tak kutemu jawab di ambang pencarianku.

sampai letih menyerpih. menjadi huruf-huruf tak beraturan di hadapku. berputar-putar. menertawaiku!

katakan bagaimana harus kujawab. satu tanya yang lama kupinta jawabnya.

JERIT KOTA KEKASIH

dimana kau tinggalkan jejak, pada sunyi yang berhamburan di mataku.
tak kau tahu ragu berkejaran di dadaku.

dimana kau tuliskan cerita, pada hening yang bergulir di matamu.
tak kau pahami tanya berdesakan dikepalaku.

kuadukan pada gerimis senja itu. tapi dia bisu.
kuadukan pada angin memburu. tapi diapun ragu.

hingga, mengangkasa jerit batinku pada langit. dan
kutuliskan di situ: kapan kau kan pulang untukku?

di antara laju kereta kau pun pergi tinggalkan aku.
dalam sunyi rangkulku.

PAPAN HITAM PENUH AKSARA

papan hitam dipenuhi aksara. gulita
tak sanggup diterjemah kata. mungkin rahasia membuta.

aku demikian gigil dengan gelisahku.

ada yang terhapus pada papan hitam. tanganmukah
melakukannya? hingga tak lagi kutemu aksara disana.

hanya tinggal jejak tanya. mengapa tak kau hapus juga

gelisah di dada.


SAJAK BUAT MAS NANANG

1

untukmu nun disana,

akankah waktu kan tuntaskan raguku terhadapmu. akankah rinduku kan membawamu kembali dalam tatapku. adakah langit yang mendung kan usik dirimu tuk segera pulang untukku?

adakah? adakah? adakah?

untukmu nun disana,

dimana kulabuhkan perihku tak jera menggoda. dimana ku tautkan harapku tak dipinta. kau dan kau. berkekalan di ingatan. serunai cinta yang kau selipkan ditulang rusukku. pada retaknya kau tak jemu merayu.

"yakinlah! yakinlah terhadapku!," pintamu, " aku akan selalu pulang untukmu, "

"sedang musim berlalu tak menunggu, " rintihku.

" jangan lagi ragu hatimu!" rayumu.

dan aku membisu. melayang pandang cakrawala nun jauh di sana. adakah matamu pun tertuju padanya?

pada guratan-guratan luka yang kutoreh di waktu lampau. pada peti menyimpan kisahku. pada sepi temani rintihku. kuadukan dirimu.

tak. tak aku meragu. andai kau di sini bersamaku...

2.

berhimpitan bayangmu merayuku. merindu.…
MUNGKINKAH ENGKAU CEMBURU?

mungkinkah Engkau cemburu, jika kucinta ia dalam Cinta-Mu dalam tatap-Mu dalam Sayang-Mu dalam ridha-Mu

mungkinkah Engkau cemburu, jika kucinta ia dalam penyerahan pada
kehendAk-Mu semata, pada peta yang Kau gariskan dalam hidupku

mungkinkah Engkau cemburu, Kekasihku?





SEPERTI TANGIS HURUF-HURUF


seperti tangis huruf-huruf, demikian rindu meneteskan airmata, di
sela-sela kalimat cinta, memuara, memuara di senja kala.



TELAH DIPILIHKAN ENGKAU

telah dipilihkan engkau. sebagai anugerah terbaik bagiku. setulus
cinta yang kutemu di bening mata. seindah rindu senyummu.



BELAHAN JIWA YANG MENCARI

lalu
kita serahkan
mimpi kita
pada pemberi tanda
segala kepastian

seperti
disematkan
pada takdir
sebuah ajal
kelahiran
dan kematian

di waktu
yang tak terduga

telah dicatat
sebagai riwayat
di rahasia
kehendak

sebelah jiwa
yang
sepi
menemu
belahannya
sendiri

sebagai adam
menemu
hawa

sebagai yusuf
menjumpa
zulaikha

jiwaku
mencari
belahannya

mungkin
engkau

seperti digurat
pada
ayat yang kekal

oleh jemari
cintanya
pada
sebuah entah

pada
kehendaknya

Depok, 2002


HUJAN SORE INI

hujan yang mengunjungi sore hari
seperti airmata

tak henti merembes di pelupuk
basahi kerontang dada sendiri

sebuah sajak menari
dalam sunyi

lintasan bayang:
engkau yang jauh

aku menyimpan nyeri
membisik bisik:

lirih suara
sampaikah padamu

Depok, 2002



DI DADA CINTAMU

pada tangis yang tersendat dan cemburu yang menyelinap di dada cintamu aku meringkuk dengan gores luka setubuh tubuhku diri yang lelah bertarung di hiruk pikuk jaman yang menusuk menetak mencongkel mengadukaduk seluruh rasa suka dukaku derita bahagiaku sebagai pecundang yang lelah berlari memekikan kekalahan demi kekalahan menerima kutuk dan maki sebagai upacara diri sendiri meneriakan nyeri perih tak tertahankan lagi.

o, di dada cintamu, kekasih, aku ingin istirah!

Depok, 2002



SEBAGAI EMBUN DI SUDUT WAKTU

Sebagai embun di sudut waktu. Dikekalkan menjadi pendar cahaya. Di matamu, sayang didongengkan mimpi-mimpi kita. Orang yang tak henti melangkah.

Tercatat pada ingatan. Negeri di jauh lampau. Di sebuah entah. Dan kita merindu untuk pulang.

Kita bersenandung lirih dan perih: “Lihatlah, lihatlah, luka-luka kami, Kekasih. Merindu-rindu wajahmu.”

Peluh mengucur sebagai keluh. Kita berarak dengan dada yang riuh dan gaduh. Mengetuk pintu-pintu di segala waktu. Dengan segala aduh nyeri rindu yang penuh. Meluber mencari teduh wajah, dalam ingatan. Tak pernah luruh.

Gemuruh rindu menggelombang: “mari pulang, marilah pulang, marilah pulang bersama-sama.”

Sebagai embun di sudut waktu. Di matamu sayang, bergulir berpendar cahaya matahari. Dikekalkan ingatan menuju pulang. Menemu kembali wajahnya di surga yang hilang.

Depok, 2002
KOTA KEKASIH

malam yang menyimpan gigil rindu kota kekasih o simpan cerita simpan dalam dada melintasi jalan-jalan ribuan kenangan memijar-mijar dalam kepala senyum yang bercahaya mata yang bercahaya tangis yang cahaya sebagai rasa cemas akan kehilangan lelambai tangan o di balik jendela kereta menderu pohon-pohon berlari rumah-rumah berlari malam menghitam gerimis menjadi deras hujan: o kota kekasih!

depok, 2002


DI MATAMU KEKASIH

di matamu kekasih, kutemu negeri rerimbun pohonan menghijau daun, gemercik alir dari mata air, jembatan bambu yang terbentang. kanak-kanak tertawa riang menyeberangkan mimpi dan harapnya. o, di dada yang merangkum kasih sayang, kanak-kanak mendekatkan kepalanya. tiktak kehidupan, berdetik di dada cintamu.

lumajang, 26-11-2002, depok, 28-11-2002



MENELUSUR JEJAK DI TERIK PANAS

menelusuri jejak di terik panas, o di mana kota yang menyimpan mimpiku.
udara melelehkan keringat, terhuyung aku di bawah matahari.

kutelusuri jejak. hingga kutemu. mata air. rinduku

malang, 25 november 2002

INILAH AIRMATA

inilah airmata. menyelinap dalam senyap. gemeletar tatap. sebagai cemburu. memburu masalalu: peta-peta yang diberi tanda. penanggalan dan riwayat.

tapi siapakah yang membaca luka sebagai puisi. selain jemarimu yang menelusur jejak rasa sakit. hingga kau tahu, manusia menanggung kutuknya sendiri. memanggul kata-kata dan menggulirkannya dari puncak derita bahagia.

o jutaan huruf terlepas dari jejemari. bergulir kata-kata. di tebing pipi. sebagai airmata, yang kau terima, sebagai debar dalam dada sendiri.

hanya ketulusan menerima. sebagai muara. mengalirkan kesah pada laut keabadian. cintamu.

Depok, 2002



KEKASIH BERKATA

Kekasih berkata: aku cemburu kepada tuhan. Dia selalu merebut segenap cinta dan rindumu dariku. Tak dapatkah kau tanggalkan Ia walau sekejap, agar cinta dan rindumu untuk aku

Kekasih menjawab: sayangku, apakah kau ingin menyengsarakan diriku dirimu dengan menuhankan dirimu? Aku terlalu mencintaimu, karenanya tak kubiarkan cinta itu melaknat diriku dirimu. Cukuplah dia menjadi saksi cinta yang sesungguhnya






KUHIRUP ASMAMU

Kuhirup asmamu dalam kalbuku, membiru. Kutelusuri tiap jejaknya dalam harap cemasku. Kuhembuskan dalam kepasrahan. Harap bahagia selalu menjadi.


MAWAR

Mawar masih sekuntum
Mengulum salam senyum

Padamu yang satu


SEBULIR BENING

1.
Sebulir bening mencari muara
Mengkristal ia di sekeping hening
Mengering

2.
Hening masih sekeping
Lingsut dari tangis malam diam-diam
Hempaskan bening masih sebulir
Mencumbu pagi penuh harap kemenangan



SKETSA PETA PADA TATAP MATA

O mata. Sebagai bening rindu demikian hening. Ke dalam dadaku kau alirkan segala mimpi dan harap. Tatap yang tak henti menjelajah relung-relung terdalam rahasia waktu.

Pada sketsa peta. Sebagai tanda yang harus kubaca. Setulus cintaku. Gulir butir airmata. Menemu tuju. Menemu mula segala rindu. Di negeri yang jauh. Di langit yang jauh.

Demi pemilik segala rahasia waktu, kutemu cinta di tatapmu, o mata. Menerobos relung terdalam rahasia dalam dadaku!

Depok, 15 Desember 2002



KARENA-MU

karena-Mu aku mencinta. bait-bait rindu yang kekal Kau hembus di dadaku. sebagai takdir yang tertera di kehendak-Mu. aku serahkan diri. juga cinta. kulewati abad-abad kepedihan meneguhkan syahadahku. menempuhi jalan terjal berbatu. menempuhi goda sepanjang usia dunia.

O Engkau, karena-Mu. atas kehendak-Mu semata. aku mencinta. kami saling mencinta. maka berkatilah cinta kami berdua.

hingga kerdip cahaya cinta menyatu dalam Cinta-Mu!

Depok, 14 Desember 2002


AKU INGIN MENJUMPAIMU

Aku ingin menjumpaimu. O mata, yang menerbitkan cahaya rindu dalam dadaku.
Seperti cahaya dan gerimis yang menggambar pelangi. Di lelangit harap saat
kau tunggu dengan rayu dan tatapmu.

Demikian manja gerimis menyapa. Cahaya disela-sela. Memendar pendar. Mewarna di udara. Lengkung mimpi kanak-kanak ke langit cintamu.
Biarkan bait-bait rindu menelusup dalam mimpimu. Huruf demi huruf yang beterbangan di buku hari-hari. Berdiam dalam dadamu. Dalam hangat pelukmu. O, yang merindu.
Aku ingin menjumpaimu. O mata, hingga tumpas rindu dendamku. Dalam tatap matamu.


Depok, 16 Desember 2002





MASIH KULIHAT REMBULAN DI ANTARA SIHIR LAMPU KOTA

buat: kunthi hastorini


masih kulihat rembulan, cahayanya yang kuning keemasan, menggoda ingatanku, kepadamu. di antara lampu-lampu merkuri dan sorot kendaraan, aku takjub memandang langit, rembulan yang terang cahayanya. aku ingat engkau sayangku, dan ribuan kata-kata berloncatan ingin menjelma puisi.

puisi menjelma dari sepotong film animasi. dunia kanak-kanak yang menjadi kenangan. bayangkan kita memandang rembulan dan mengaung, sebagai serigala, yang menggetarkan langit dengan jerit yang teramat sedih. mungkin rindu. pada kekasih di langit yang jauh. di negeri yang jauh. di angan yang rapuh.

malam ini, sayangku, aku ingin kau tatap rembulan, terang cahayanya. seterang cinta kita yang menerang langit. demikian purnama.

Guntur 18 Deseember 2002, Malabar 19 Desember 2002




DI DEDAHAN SAJAK

di dedahan sajak beburung jiwa singgah
istirah melepas lelah

penempuhan adalah jejalan panjang
berliku dalam pusaran waktu

di dedahan sajak beburung jiwa menyanyi
nyanyi rindu kekasih diri

demikian cinta memanggil panggil
mendebarkan jejantung hati

di dedahan sajak beburung jiwa melagulagu
mengetuk paruh pada pepohon irama kata

pepohon hidup menari-nari
dipeluk dipagut sepoi hembus berangangin

di dedahan sajak beburung jiwaku singgah
istirah melepas lelah

Depok, 2002


DI PUSARAN WAKTU

telah dilabuh gelisah pada pusar waktu
hingga larung abu pada sarang angin

gelombang sunyi diri sendiri

tinggal beburung jiwa menemu
karang julang tegak menantang

demikian terjal jejalan hidup di tatap matahari

sekepak sayap sekepak sayap menempuh tempuh
disayat hayat disayatsayat hingga mayat hingga tamat

tapi akan dilabuh juga segala gelisah pada pusar waktu

hingga larung abu pada sarang angin
gelombang sunyi diri sendiri

menjelma beburung jiwa

terbang mengepak dari matamu
menempuh tempuh sekepak sayap sekepak sayap

hingga sampai mematuk patuk mengetuk

pintu langit membuka
bagi jerit perih kerinduan jiwa

menemu cinta menemu cintanya

Depok, 2002



AKU LUKIS SENYUMMU YANG MAWAR

Aku lukis senyummu yang mawar
Dalam ingatan yang merindu

Tatapmu memanja rayu
Nyelinap dalam kalbu

Angan harapku
Bahagia engkau

Bersamaku selalu
Menuju Satu

Depok, 2002


HENING YANG KAU PUNGUT

kau pungut sekeping hening dalam kelambu jiwa meronta tiada. dan kau tanam ia dalam desah nafas memanas menderas. kau katakan padanya, bahwa kau akan menunggunya hingga ia tumbuh dan berbuah.

kau masih disana. memintal cerita dalam sajak-sajak jemari menari.dalam hujan dan terik yang menghardik jasadmu kegelisahan. tapi kau masih setia, menghitung hari dalam nyeri.

menyulam mimpi dari kejauhan yang merapuh. derita yang pecah. bahagia yang gerah. tak kau peduli. kau masih disana.

tak kau pahami bulan berotasi tujuh musim lamanya. mungkin, jenuh pun kan datang sebagai goda. atau bimbang jelang sebagai dentang.

hanya pada kedirian semua berawal. dan dari kedirian pula semua berakhir.

kau masih disana, dengan cinta!
TAWAMU PECAH
: Nanang Suryadi

tawamu pecah membuncah gairah. pada titik-titik resah kau tampung malam menyimpan cerita. duka yang berkejaran di sebalik gelisah manusia.

apa yang dicari dalam malam?selain dirimu yang membaca guratan-guratan luka manusia. menelanjangi tiap detak jantung derita. merampas alur hujan yang jatuh dari mata-mata kelelahan.

dan, tawamu pecah. sebab, tak ada lagi mesti di tangisi, selain luka masih nganga sebatas mimpi saja!
Dimanakah Engkau, duhai cintaku

malam demikian gelap, meratap. ruh-ruh berkeliaran kesana-kemari, gelisah. dan, ada yang teriak dari balik kolong ranjang kerontang, mengerang.

"Betapa aku lelah ya Rob, dimanakah Engkau, duhai cintaku. Rindu aku ingin tatap wajah-Mu!"

wajah-wajah lantas berbaris, menyelinap diam-diam dari balik dinding pucat. alangkah rupawan, alangkah menggiurkan. ach. betapa bahagia cekikikan.

malam tak lagi gelap. cahaya berpendaran, menawan. tak ada ratap, tak. hanya tawa berderaian memabukkan. duhai inilah dunia kenikmatan! arak? mana arak biar terpuas nafsu memburu, ah!

tapi, plop!

demikian hening mengering, "tidak!, jangan pergi!". demikian teriak memekak. demikian haus tak terpuaskan!.

ruh-ruh sesegukan ketakutan. gigil memanggil kerdil. wajah-wajah bergantian, berputaran. haus. haus. haus. wajah kesejatian. dimana duhai kiranya Dia,

cinta?



Sebagai Doa

Sebagai doa mengalir ke muara hatiku, o Cinta
Mengalirlah mengalir bersama waktu

Sebagai doa mengepak sayap ke langit jiwaku, o Cinta
Terbanglah terbang menembus langit Rindu

Sebagai doa, jejak menapak demikian ikhlas, O Cinta
Langkah kaki menuju:

Senyum-Nya yang dirindu



Bening Danau

Akulah angsa yang berenang di bening danau
Merentangkan sayap di hangat matahari

Bernyanyi riang. Bernyanyi riang

Sesekali kubenamkan kepala dalam-dalam
O, keteduhan, larutkan gundahku

Akulah angsa yang berenang di jernih tatap

matamu

Sketsa Dinihari

Di bening hening, mengembun ingatan
Pada engkau, cintaku

Di manakah engkau, sayang?

Tak ada suara juga aksara
Kurindu kata menyapa

Di manakah engkau, sayang?

Kucari engkau
O, yang nyalakan Cinta

Di dada risau!



Cahaya Mata

O mata,
demikian binar,

mencahaya



Kita Akan Pulang Sayang (3)

Tak ingin lagi kuseru dengan suara menderu
Biar dengan sunyi, biar dengan rindu kusapa dirimu

Kerlip di matamu, o kekasih
Suar harap musafir, hingga tak lagi letih

Menapak setapak demi setapak
Mengikut lamat jejak

Digurat peta di dada sendiri
Di rajah tangan, garis nasib sendiri

Ya perindu, di jalan sepi, Cinta membara api





Kita Akan Pulang Sayang (2)

sebelum habis gairah. sebelum payah melungkrah langkah.
tak kan henti. tak kan henti. menapakdaki.

jika pun di sini kita istirah,
hanya sebentar mampir minum seteguk teh di perjalanan

lalu kita pun harus tetap melangkah
menuju Cinta yang selalu dirindu

kita harus sampai. di tuju
di rumah yang dirindu

mari sayangku
kudekap engkau dalam pelukku

berjalan menuju
rumah rindu





Di Sebuah Senja

cakrawala demikian jingga, merona
ketika kutatap, dia tertawa

(sayang, gerimis tak hadir menyapa)

cakrawala masihlah jingga, cahaya
menelusup di antara keping jiwa kita, bahagia

di sebuah senja
bersama kita puisikan, cinta


Apa Beda


jauh atau dekat
apa beda,

hanya jarak

bicara atau diam
apa beda, hanya suara

segalanya ada pada diri kita





Hujan Sore Itu

menitik air mata satu satu
meresap jauh ke lubuk kalbu

meluncur bagai anak panah siap melukai kapan saja
tapi, biarkan. biar saja kunikmati tiap tetesnya satu satu

berlagu seperti puisi yang kau kirim padaku sore itu



LANGKAHKU TAK LAGI RAGU

langkahku tak lagi ragu
ada kau, aku tahu





Dalam Diamku

dalam diamku, dalam desahku
bertanya kau di mana

berpikir kau sedang apa
berharap kau pun baik-baik saja
Bergeraklah Dengan Kesadaran

bergeraklah bersama hembusan bayu yang tak henti mendekapmu,
membagi sebuah kekuatan

di sana ada dzikir, di sana ada doa yang terkatup dalam hening jiwa

yakinlah, ada aku yang percaya kau kuasa
lawan segala yang tak semestinya. yang tak biasa

bergeraklah dengan sepenuh kesadaran!



Telaga Hatimu

Berlari melintas
tinggalkan kelam merajam
Sampai pada..
telaga ku temukan

Alangkah bening,
dan biarkan ku bercermin
menatap seberapa dalam ia
larutkan segala...

dalam bening
matamu



Apa Yang Harus Dikata

apa yang harus dikata, bila dunia terus berputar
seirama detak detik jiwa,bersuarapun tak lagi kuasa,

meratapi setiap ruang yang masih tersisa.

harapan akan selalu ada, meski tak selamanya
bergumul dengan cerita yang apa adanya

hanya apa adanya, disana kan kau jumpai cinta. mungkin begitu biasa,
mungkin begitu sederhana. mungkin juga begitu istimewa





Kita Pasti Pulang, Sayang

Suatu hari nanti entah kapan
kita kan pulang,
tapi harus sendirian
sayang

tak lagi tangan bergenggaman
tak lagi mata bertatapan
dan
tak lagi bermesraan

hanya
jiwa baur semburat kesepian
yang panjang
Sayang

Sebab
hanya kesemuan merajam
pinta bagi suatu kesejatian
Tuhan





Kita Akan Pulang Sayang (1)

kita pulang, katamu. kan dilabuh segala lelah. istirah. melebur
amarah. menyalakannya jadi gairah.

tapi di mana rumah. senyum dan bening matamu. memetakan arah.

tunjukkan arah pulang sayang. tunjukkan.

berjalan kita. menuju pulang





Sketsa Ke Berapa Tentang Kenangan

1.
masihkah kau putar lagu, dari masa lalu, sebagai bayang, ingatan tak
habis kikis, bersama waktu, bersama waktu.


2.
kuingat takikan pada pohon karet, mengucur, mengalir, menggumpal.
guratan pada batangnya seperti puisi yang menanda. luka

3.
bagaimana dibangun sebuah harap. pada puing. tak lagi dipercaya
puisi. juga kata. engkau menyeru: o, siapa yang dapat membebat ini
luka di dada!

4.
sebagai puisi. kenangan menuliskan airmata. duka dan bahagia.





Dalam Diamku

dalam diamku, berlagu
menapak jejak-jejak langkahmu
menatap setiap ruang disitu
mengenalmu, memahamimu, mempercayaimu
seiring bergulir waktu
merengkuh, mendekap, jiwamu
selalu,
dalam bisuku




Bersamamu Kekasih

O ayun ambing di kapas-kapas awan
Bersamamu kekasih, bersamamu

Menerbang menerbang mengepak kepak
Di lalu angin, di hangat matahari

Hingga di pintunya kita ketukan paruh
Dan o Cinta, semoga dikatakannya dengan gembira:

Selamat datang, o yang merindu...



Total Tayangan Halaman

Google+ Followers

Pengikut